Showing posts with label Values. Show all posts
Showing posts with label Values. Show all posts

Maturitas

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #012
Landasan nilai ketiga (ini juga bukan berarti tidak lebih penting dari yang pertama atau kedua) yang sangat diperlukan untuk membangun Tim berkinerja luar biasa adalah sikap saling membutuhkan justru pada saat seseorang makin memiliki kompetensi yang tinggi. Ini persis seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.
SIlakan merenungi hukum alam yang hebat ini!
Maturitas atau kedewasaan seseorang ditunjukkan dari kesadaran dan sikapnya bahwa hidup adalah saling bergantung satu dengan yang lain, saling membutuhkan dan saling melengkapi (sense of interdependency). Makin tinggi tingkat kedewasaan seseorang semakin tinggi pula dia menyadari bahwa hidup tidak dapat dijalani tanpa kehadiran dan bantuan orang lain disekitarnya.
Hukum alam mengajarkan kepada kita bahwa rasa saling bergantung merupakan tingkat kedewasaan yang paling tinggi. Perhatikan perjalanan hidup kita semenjak dilahirkan ke dunia hingga mencapai usia tua. Sesosok bayi tentu sangat bergantung hidupnya (dependent) kepada orang-orang disekitarnya. Dia bahkan tidak dapat hidup tanpa uluran tangan orang lain. Anda tentu tidak akan membiarkan bayi itu berada di tepi lubang sumur tanpa penjagaan, karena dia belum layak dipercaya. Dan bila dia berbuat salah, ngompol atau buang air sembarangan, andapun sudah tentu tidak akan memarahinya karena anda memakluminya sepenuh hati bahwa ia belum dapat dimintai pertanggung-jawaban. Jadi, bila seseorang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, ia tergolong dalam kaum bayi, manusia dengan tingkat kedewasaan paling rendah.
Beranjak besar, selepas remaja, seseorang akan meningkat kemampuannya, merasa dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, mengatur hidupnya sendiri dan bila mungkin tidak berada dibawah kendali orang lain. Dia merasa mandiri. Dan bila dia memang mampu hidup mandiri, dia menjadi layak dipercaya dan patut bertanggung-jawab atas segala tindakannya.
Bertambahnya pengalaman hidup – terutama akibat benturan dan kegagalan - akan membawa seseorang pada kesadaran dan pemahaman bahwa kemandirian yang dimilikinya tidak sepenuhnya dapat menyelesaikan secara sendiri segala persoalan hidup. Pengalaman akan mengajarkan kepadanya bahwa dengan bekerjasama ia akan memperoleh hasil yang lebih besar, lebih cepat dan lebih efisien. Pemahaman ini pada akhirnya akan membawa dia kepada rasa membutuhkan orang lain dan dibutuhkan oleh orang lain. Dia menjadi terbuka untuk bekerja sama, menjadi lebih santun dan mau menghargai orang lain.
Jadi, ukuran tingkat kedewasaan seseorang, bukanlah dilihat dari banyaknya umur yang dimiliki atau keriput dan uban yang menghiasai kepala, melainkan seberapa dalam kesadaran saling bergantung dengan sesama serta dengan lingkungan. Semakin dini seseorang menyadari dan memiliki sikap itu, semakin cepat dewasalah ia, meskipun dari segi umur mungkin terbilang masih belia. Sebaliknya betapapun tuanya seseorang, bila sikap dan perilakunya tidak membuat orang lain mau bekerjasama dengannya, ia belum dapat dikatakan dewasa. Pepatah lawas mengatakan “Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan
Terkait dengan itu, kedewasaan seseorang terikat erat dengan kemampuannya membedakan antara yang benar dan salah dan kemudian melaksanakan yang dinilai benar itu. Hanya dengan mampu mengetahui yang benar namun tidak melaksanannya, belum berarti memiliki tingkat kedewasaan yang tinggi. Dan yang tidak kalah sulitnya adalah memilih yang benar diantara populasi yang salah atau sebaliknya mengetahui yang salah diantara populasi keyakinan kebanyakan orang yang mengatakannya benar. Anda tidak larut dan terbawa arus begitu saja, melainkan setia kepada kebenaran yang hakiki.
Kedewasaan juga berarti mampu menyeimbangkan antara keberanian ( courages), percaya diri karena merasa mandiri, dengan pertimbangan (considerations) terhadap kepentingan berbagai pihak.

1989, Perestroika, Democracy,Glasnost, Reforms! Source: 25 Red Snap Shot

Tentunya anda tidak perlu heran melihat kondisi masyarakat kita sekarang berdasarkan hukum alam diatas. Mereka menikmati kebebasan setelah puluhan tahun berada dalam kondisi (tepatnya dibuat agar) dependen, bergantung pada pusat (Jakarta). Sayangnya eforia ini cenderung kebablasan karena tidak segera dibimbing ke tingkat kedewasaan yang lebih tinggi yakni kesadaran saling bergantung. Ketidakdewasaan ini terlihat jelas dari banyaknya orang yang mengartikan demokrasi sebagai kebebasan tanpa peduli terhadap kepentingan orang lain, mengingkari keanekaragaman dengan mengedepankan kuantitas (quantity democracy). Kita juga mestinya tidak perlu kaget terhadap hasil referendum Timor Timur yang memilih merdeka setelah sebelumnya sangat bergantung pada Jakarta. Sama seperti Uni Soviet tahun 1980-an, setelah ‘Glasnost’ dan ‘Perestroika dikumandangkan oleh Mikhail Sergeyevich Gorbachev maka bermunculanlah negara-negara baru eks negara bagian yang sebelumnya sangat bergantung kepada Kremlin.3rd European Union Cultural Week in India (Logo 2007)

Dilain pihak, negara-negara Eropa Barat yang telah puluhan tahun merdeka justru mengikatkan diri dengan membentuk Uni Eropa karena sadar saling bergantung, agar dapat tetap dan unggul bersaing di era globalisasi. Jadi, hukum alam akan terus berjalan. Yang perlu dirisaukan hanyalah bila kita tidak segera mampu menciptakan rasa saling bergantung itu. Kita gagal membuat diri kita dewasa.

Pic.source: imcradiodotnet


Mentalitas Berkelimpah-ruahan

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #011


Pondasi nilai yang kedua (bukan berarti yang pertama lebih penting) dalam bangunan rumah SOBAT untuk membangun Tim Berkinerja Tinggi adalah sikap mental yang jarang bisa kita temui lagi di Indonesia, apalagi kalau anda menengok di jalan raya ibukota dan kota-kota besar lainnya. Tampaknya yang ada adalah sikap menta lyang berlawanan dengan mentalitas yang dibutuhkan untuk maju bersama.
Mari kita tengok mentalitas ini.
Mentalitas Berkelimpah-ruahan atau Abundance Mentality adalah sikap mental yang memandang bahwa dunia akan memberikan kecukupan dan tidak khawatir kehabisan apabila kita mau berkerjasama dan kreatif menciptakan sinergi. Orang yang memiliki mentalitas ini biasanya berlapang hati untuk berbagi dan bekerjasama serta tidak mudah menyerah untuk berusaha bersama.
Abundance Mentality dapat pula diartikan sebagai sikap ‘Legowo’, luas hati, gemar berbagi (sharing), dan suka melayani demi membahagiakan orang lain karena hal itu akan membuat dirinya juga bahagia. Mereka senantiasa berpikir “dan” bukan “atau” bahkan untuk pilihan-pilihan yang bersifat paradoksal sekalipun, karena mereka berani bersusah payah mencari solusi gabungan dari hal-hal yang berlawanan itu. Memilih atau berarti membuang yang lain, meniadakan kemungkinan mencari solusi ketiga yang bersifat sinergis. Memilih dan berarti harus berupaya memadukannya menjadi sesuatu yang baru, secara kimia menjadi zat baru yang berbeda dari unsur-unsur pembentuknya.
Sebaliknya adalah “scarcity mentality atau mentalitas berkelangkaan yang dalam bahasa dan budaya Jawa digambarkan sebagai mental kere, yakni sikap mental yang memandang dunia ini langka, penuh kekurangan dan tidak pernah cukup, sehingga agar kebagian saya harus lebih dahulu merebutnya. Saya harus mendahului yang lain biarpun harus melanggar aturan yang ada. Persetan dengan akibat yang ditimbulkannya sekalipun akan membawa kekacauan atau kerugian pada orang lain.
Sebenarnya bukan dunia ini yang langka, tetapi pikiran dan hati manusia itu yang langka daya pikir dan kreativitasnya. Bukankah untuk memperoleh pendapatan yang tinggi kita tidak perlu menebang jutaan hektar hutan untuk hanya menjual gelondongan kayu yang nilainya cuma 10-20% dari produk jadinya. Bukankah produk jadi itu dapat didaur ulang untuk mengurangi konsumsi kayu gelondongan atau bahkan saat telah menjadi sampahpun dapat diolah menjadi pupuk yang mempercepat tumbuhnya pohon-pohon baru. Atau, daripada mengambil kayu gelondongan, bukankah lebih untung menemukan dan memanfaatkan beribu jenis zat-zat berharga bagi pengobatan, kosmetika dan lain-lain dari tetumbuhan ikutan yang terdapat berlimpah didalam hutan dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada kayu gelondongan itu.
Mental kere, adalah mentalitas anak berumur 2 tahun. Karakter mereka dapat disimpulkan dengan dua kata : “Saya dulu!”. Semua berpusat pada ‘saya’. Sifat alamiah manusia ini memang lucu dan menggemaskan untuk si balita, tetapi sangat tidak lucu, norak serta menjengkelkan jika masih dimiliki oleh orang ‘dewasa’ yang selalu datang dengan “kebutuhanku, ideku, mau saya, keinginanku, pokoknya aku, saya, gue, beta, awak”.
Agar lebih memudahkan pemahaman, tabel dibawah ini menyajikan perbedaan sikap dan perilaku antara Mental Berkelimpah-ruahan dengan Mental Kere.
Dapat diperiksa bahwa perbedaan keduanya bersifat bertolak belakang atau berlawanan. Jelas juga terlihat bahwa Mental Berkelangkaan selalu berkonotasi negatif sedangkan sebaliknya, mentalitas Berkelimpah-ruahan berhubungan dengan hal-hal yang positif.

Integritas

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #010

Salah satu dari 3 nilai dasar SOBAT adalah Integritas. Kata ini banyak diucapkan tetapi patut disangsikan pemahaman sebenarnya. SOBAT sangat menekankan pengertian atas values yang menjadi pondasi bangunan Tim berkinerja hebat, dan ingat values disini diartikan sebagai sesatu ang berkoar, membara dan tertanam kuat dalam sanubari seseorang sehingga memudahkannya mengatakan 'TIDAK'! untuk hal yang bertentangan dengan nilai itu.
Mari kita mulai memahami Integritas dalam SOBAT.
Integritas (sense of integrity) berasal dari kata integer yang bermakna satu. Nilai integritas diartikan sebagai sebuah sikap mental yang menjunjung tinggi kesatuan, keutuhan (wholeness) atau kebersamaan yang erat terpadu. Integritas juga berarti kesatuan antara pikiranperkataan perbuatan. Jadi, seseorang dikatakan memiliki integritas apabila ia selalu bersikap mengedepankan keutuhan dan persatuan dilingkungannya, dengan membuktikan diri mengatakan apa yang dipikirkan serta melakukan apa yang telah dikatakannya. Istilah “satu kata dengan perbuatan” tidak cukup mewakili arti integritas karena orang dapat melakukan persis seperti yang ia katakan namun dengan membawa pikiran atau maksud berbeda, hidden agenda.

Jelas terlihat bahwa didalam integritas tercakup pula nilai komitmen yang tinggi terhadap kesatuan, keutuhan dan keberhasilan kelompok. Kata komitmen yang diterjemahkan dari bahasa Inggris commitment, karena kosa kata dalam bahasa kita tidak memiliki padanan yang pas, mengandung pengertian tekad, janji, niat, semangat yang tinggi untuk menyukseskan apa yang telah menjadi kesepakatan, atau sesuatu yang telah ditetapkan bersama. Memberikan komitmen berarti mengikatkan diri pada sesuatu dan berupaya keras untuk memenuhinya.
Untuk mengetahui besarnya komitmen seseorang, periksalah dengan sungguh-sungguh seberapa tinggi ia menempatkan hal yang menjadi komitmennya itu dalam skala prioritas. Bila ia meletakkannya sebagai prioritas utama berarti ia benar-benar berkomitmen.
Tinggi rendahnya sebuah komitmen dapat diukur pula dari seberapa besar yang bersangkutan memberikan dukungan dengan menyediakan sumber daya yang dikuasainya demi keberhasilan tujuan. Sumber daya tidak harus bertopang pada sumber dana, tetapi yang lebih utama adalah pikiran, waktu, tenaga dan jangan lupa hal yang penting ini: hati!
Selain itu, tinggi rendahnya komitmen ditentukan juga dari konsistensi orang tersebut dalam menghadapi hambatan yang ada. Seberapa besar upaya dan seberapa ngotot orang yang bersangkutan menghadapi tantangan, tekanan, halangan dan hambatan yang menghadang, menentukan tinggi rendah komitmennya.
Ukuran berikutnya adalah kreativitas. Seberapa kreatif yang bersangkutan mencari jalan keluar yang berbeda dari biasanya, serta jeli mengembangkannya dalam menyelesaikan hal tersebut dengan tuntas, tidak bekerja secara tanggung.
Hal terakhir yang dapat dipakai untuk melihat tingginya sebuah komitmen adalah rencana dan langkah Tindak Lanjut. Seberapa rinci dan jelas tindak lanjut dijabarkan dalam langkah-langkah konkrit. Bila ini tidak, biasanya hanya menjadi lips service semata. Agar lebih jelas silakan melihat format mengukur level komitment pada Lampiran 1 buku ini.
Kembali kepada integritas.
Disamping komitmen, integritas mencakup pula nilai kejujuran yakni jujur kepada diri sendiri dengan benar-benar mengatakan yang dipikirkan dan benar-benar melakukan yang dikatakan, serta jujur kepada orang lain dengan mewujudkan apa yang telah disepakati bersama.
Selain itu, integritas mencakup pula nilai kebersamaan yang ditengarai dalam sikap dan perilaku mendahului kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi sesaat. Disadari sepenuhnya bahwa kepentingan pribadi akan terpenuhi dengan berlebih jika kita berani menundanya, demi pencapaian yang lebih besar.
Didalam integritas juga terkandung nilai peduli yaitu ikut memperhatikan (concern). Peduli pada kepentingan orang lain, pada kesulitan mereka, kebutuhan mereka, serta juga peduli pada kegembiraan mereka. Ikut merasa gembira ketika mereka bahagia dan berempati ketika mereka sedang mengalami kesulitan.
Oleh karena itu orang yang memiliki integritas juga menjunjung etika. Ia selalu bersikap etis dalam tutur dan tindakan sesuai dengan kepeduliannya pada sesama dan lingkungannya.
Tidak ketinggalan adalah nilai kesetiaan yang juga terkandung dalam integritas. Setia pada kebenaran, pada kesepakatan, atau tujuan-tujuan bersama. Seorang yang memiliki integritas tidak akan meninggalkan begitu saja atau mengkhianati kelompoknya, mengail di air keruh atau menjadi musuh dalam selimut. Dia juga tidak akan bermuka dua, bersandiwara atau mempunyai agenda tersembunyi.
Tidaklah heran bila integritas seringkali merupakan tuntutan utama dalam banyak organisasi atau kelompok. Bahkan bisa dikatakan semua kelompok-kelompok radikal, kelompok-kelompok eksklusif, serta gangster-gangster kriminal menuntut integritas yang mutlak dari setiap anggotanya. Tidak terkecuali Mafioso, Triad, Yazuka, Brigade Merah maupun Al Qaeda.

Pondasi dari Batu Karang

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #009


3 NILAI DASAR / Basic Values Bagi Tim Berkinerja Tinggi

Sebuah bangunan tidak akan kokoh apabila beridiri diatas pondasi yang lemah ataupun labil. Dia akan berdiri tegak bergeming, tidak mudah goyah bila berdiri diatas batu karang sebagai pondasinya. Demikian pula halnya dengan sebuah team. Team yang solid, kokoh dan tegar hanya akan terbentuk bila dibangun diatas pondasi kokoh dan kuat yang mendasari terbentuknya team itu.

Dan pondasi yang kuat dari sebuah eam bukanlah hal-hal kecil, remeh-temeh, yang sering tampak dipermukaan seperti rasa akrab sebagai teman atau ketertarikan akan postur fisik. Orang sering keliru menganggap sekelompok orang sebagai sebuah team hanya karena mereka terlihat akrab, atau secara kasat mata sering terlihat kumpul bersama. Padahal keberadaan mereka dalam kelompok itu bukan karea memiliki dasar yang hakiki tetapi lebih karena tujuan-tujuan sesaat. Dan yang seperti ini dapat dipastikan tidak akan langgeng. Lihat saja koalisi partai-partai politik misalnya, mereka hanya bersatu untuk sementara ketika memiliki tujuan sesaat yang sama seperti meiliki jago yang sama sebagai calon kepala daerah. Begitu selesai urusannya maka koalisi akan segera bubar, apalagi kalau jago bersama mereka kalah dan tidak terpilih.

Pondasi team yang kokoh berujud dalam bentuk nilai-nilai (values) yang sama yang membekali seseorang atau sekelompok orang untuk bergabung dalam sebuah kelompok. Kesamaan nilai itulah yang menjadi landasan dan tuntunan sikap dan perilaku mereka. Dalam kasus koalisi partai tadi, andai saja mereka berkoalisi berlandaskan nilai yang dianut bangsa ini yakni Pancasila, maka persatuan mereka akan menjadi lebih kokoh. Tentu kita harus pahami dengan benar apa yang dimaksudkan dengan nilai atau values itu.

Para bijak bestari mengatakan bahwa nilai adalah sesuatu yang membakar sanubari kita, mengakar dan membara dalam jiwa kita sedemikian rupa sehingga mudah bagi kita mengatakan ‘TIDAK!’ untuk hal-hal yang bertentangan dengan nilai itu. Value is something burning inside that make easier for us to say NO! Ia menjelma menjadi prinsip hidup, pegangan bagi setiap langkah, panduan bagi setiap pilihan yang akan diambil.

Dalam kaitannya dengan team berkinerja tinggi, SOBAT merumuskan tiga buah nilai dasar yang menjadi tumpuan kokoh untuk bisa membangun team yang berkinerja tinggi. Tiga nilai dasar yang menjadi pijakan kokohnya sebuah team, yang harus dimiliki oleh setiap anggota team, yang mendorong mereka untuk bergabung dalam sebuah team untuk bersinergi adalah:
  1. Integritas
  2. Mentalitas Berlimpah-ruah
  3. Maturitas
Ketiga nilai tersebut bagai batu karang kokoh yang akan menjadi tumpuan bangunan rah sebuah team. Kita akan bahas satu persatu ketga nilai itu dan anda akan mengerti kenapa selama ini sebagai bangsa kita tidak mampu berkinerja tinggi. 


Gampangnya, kita tidak atau belum memiliki ketiga nilai itu sebagai Team Bangsa, sesuatu yang membara dalam hati sehingga akan mudah mengatakan tidak bila ada yang mengajak kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ke tiga nilai itu.


SOBAT menggambarkannya dalam bangunan sebagi pondasi batu yang kokoh tempat 8 pilar bertumpu ntuk menopang atap kinerja yang menaungi Team sebaga penghuninya. Pondasi biru batu itu tampaki kokoh, bukan?

Menjadi Dewasa adalah Pilihan

Menjadi Dewasa adalah Pilihan

---------------------------------------------------------------------------
Pengantar: Tulisan ini dibuat oleh SOBAT saya Seta A.Wicaksana M.Psi, dari Humanika Consulting http://www.humanikaconsulting.com . Tulisa ini sangat bagus disimak, dikaji dan direnungkan, serta sejalan dengan konsep SOBAT yan menjadi fokus blog ini. Silakan menikmatinya.
----------------------------------------------------------------------------


“Ada banyak cara menjadi dewasa, kadang begitu mudah semudah membaca buku dan menemukan kearifan di tiap lembarnya. Bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin pada setiap kejadian yang terjadi pada orang lain. Tapi tidak jarang, kita harus menempuh jalan yang begitu berat untuk menjadi dewasa dan sadar. Kita mesti melewati sungai fitnah yang deras, kudu membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar, bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah dan menjadi dewasa. Ada yang berhasil, namun banyak pula yang gugur di tengah jalan.”

Jika hal ini kita analogikan pada kehidupan, khususnya pada diri sendiri, saat ini saya dan kita masih pada proses menuju sebuah ”Kedewasaan”. Tapi yang menjadi hal yang sangat kritis adalah, “bagaimana melalui proses menuju dewasa tersebut dapat dilalui dengan baik?”


Berbagi wacana pemikiran, mengenai menjadi orang yang DEWASA.

Apakah TUA menjadi sebuah ukuran kedewasaan ?. BUKAN adalah jawaban tunggal yang dapat kita yakini dalam proses menuju kedewasaan tersebut. Banyak jalan dan cara untuk menuju sebuah kedewasaan. Tidak harus kita melalui semuanya terlebih dahulu setiap kejadian untuk menjadi dewasa. Tetapi bagaimana kita menyikapi kejadian – kejadian tersebut yang dialami oleh diri kita sendiri maupun oleh orang lain. Kuncinya adalah ”Belajar !”. Semakin kita dapat belajar dengan baik disetiap peristiwanya dapat membuat percepatan dalam menuju kedewasaan.


Sanggupkah BERTAHAN dan BERHASIL dalam proses menuju kedewasaan ? merupakan sebuah pertanyaan mendasar yang harus ditanyakan ke diri kita masing-masing. ”KOMITMEN” merupakan kunci jawaban dalam menjawab pertanyaan tersebut. Seberapa besar komitmen yang kita miliki untuk mencapai kedewasaan. Jauh sebelum sampai pada sebuah komitmen, ada yang namanya ”KEYAKINAN”. Ini merupakan kata yang harus dimiliki oleh setiap individu sebelum mereka berkomitmen pada sebuah tujuan bersama. Banyaknya perubahan yang ada dilingkungan sekitar kita yang secara reversible mempengaruhi perubahan pada diri kita yang juga mempengaruhi Keyakinan dan komitmen. Proses merupakan subuah tahapan yang cukup panjang dan melelahkan. Jika dianalogikan seperti seorang musafir yang berjalan di padang gurun yang luas, yang tidak tahu kapankah ia akan sampai di sebuah tujuan yang ia inginkan. Jika ia tidak belajar dari kisah-kisah musafir terdahulu, mungkin saja ia tidak akan pernah sampai pada tujuan yang ia inginkan dan bahkan ia akan hilang dan tidak akan ada orang yang akan mengenangnya.

Berbeda dengan seorang musafir yang selalu belajar disetiap kesempatannya. Diawali dengan sebuah keyakinan, ia mulai untuk belajar. Sehingga perjalanan yang ia tempuh tidak hanya berbekal pada keyakinan semata. Namun ia bekali dirinya dengan ilmu dan pemahaman yang mendukung perjalanannya kelak. Dengan keyakinan dan ilmu yang cukup serta peralatan yang mendukung selama perjalan, ia akan lebih siap menghadapi sebuah perjalanan pankjang di padang gurun tersebut. Tetapi kesiapan yang matang ini bukan menjadi indikator keberhasilan dalam menepuh perjalanan tersebut. Dua hal lagi yang harus ia miliki selama perjalanan, pertama adalah ”KEPEKAAN” terhadap perubahan yang terjadi. Perubahan tersebut menuntut untuk terus belajar dan belajar lagi dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada selama perjalanan. Kedua adalah ”SIKAP MENTAL POSITIF”, yaitu dimana terus mengembangkan kemampuan bertahan dan menyesuaikan diri dalam sebuah perubahan dengaan ”BERPIKIR POSITIF”. Dengan melakukan hal tersebut, rasa lelah, rasa putus asa, rasa takut, dan rasa – rasa lainnya yang membuat kita berhenti dan akhirnya kita kalah dalam sebuah proses menuju kedewasaan.

Dalam sebuah kehidupan, Musafir adalah individu dan atau sekelompok individu. Sedangkan perjalanan merupakan sebuah proses dalam kehidupan, yaitu planning, Organizing, Acting, Controling, dan Evaluating.

Planning, dimana sebuah perencanaan yang baik merupakan kunci akan keberhasilan dalam meraih tujuan. Sebuah perencanaan yang baik harus memiliki unsur ”niat” yang baik. Diawali dengan sebuah niat yang kemudian dituangkan dalam komitmen bersama dalam pencapaiannya dan dijabarkan dengan jelas dan terinci. Membuat perencanaan dalam hidup adalah salah satu hal yang sangat prinsipil. Ia sama sekali tidak dapat diremehkan, karena sangat berperan dalam berbagai penentuan dan pengambilan keputusan atau pilihan dalam hidup. Maka dari itulah, ada orang yang sangat teliti dalam melakukan perencanaan hidup. Dan tak jarang, orang dengan tipikal seperti ini sangat khawatir apabila ia tidak membuat perencanaan walaupun hanya sehari saja. Terkadang perencanaan memang bernafas dengan idealita. Sehingga tak jarang pula banyak orang yang begitu asyik dengan membuat rencana tetapi lemah dalam hal konsistensi dan konsekuensi. Terlebih bila ia menemui kegagalan dalam pelaksanaan dan ternyata ia belum bersiap-siap untuk menanggulanginya. Karena memang di sanalah terletak tantangan dalam menjalani hidup dengan suatu planning yaitu tantangan untuk tetap konsisten dan senantiasa siap menghadapi segala realita yang terjadi ketika waktunya tiba.

"Ketika peluang datang, terlambat sudah untuk bersiap-siap" Pada dasarnya segala perencanaan yang kita buat dalam hidup adalah bagian dari persiapan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Karena dalam setiap peluang atau kesempatan selalu terdapat tantangan yang menyertai sebagai bumbu hidup agar tidak hambar. Kan tetapi jangan terlalu asyik dengan bumbu, karena manis-pedas, asam-asin, serta pahitnya bumbu selalu dapat kita atasi dengan penyedap rasa. Apa kah yang dimaksud dengan penyedap rasa? Ia adalah Syukur Nikmat dan keridhoan hati dalam menerima segala ketentuan dan kehendak-Nya Yang Maha Berkehendak.

” Karena kita sebagai manusia hanya dapat berencana dan berusaha, sedang urusan hasil kita serahkan pada Yang Maha Kuasa. Hasil tidak selalu jadi penentuan menang-kalah dari pertarungan”. (Jagostu - Juni 2007).

Organizing, harus ada keberanian untuk berubah ke arah yang lebih baik, dengan ketulusan dan keikhlasan dalam mengolah sumber daya yang ada termasuk diri sendiri. ” Nilai Bukan Harta” Meskipun keduanya mengandung makna serupa tetapi tidak sama. Serupa karena kedua terminologi tersebut memiliki pewaris, ahli waris dan sesuatu yang diwariskan. Dalam mewariskan harta, sesuatu yang diwariskan wujudnya nyata, dapat dihitung, diukur dan dilihat. Sedangkan dalam mewariskan nilai, sesuatu yang diwariskan sifatnya abstrak, tidak dapat dihitung, diukur atau dilihat, tetapi bisa dirasakan dan diyakini. Nilai ”semangat” yang harus dimiliki dan dikelola dengan baik. Hebatnya lagi ”semangat” ini dapat diwariskan sehingga kehidupan dapat menjadi lebih baik.

" Untuk menyempurnakan hal - hal yang besar, kita bukan saja harus bertindak tetapi juga bermimpi, bukan saja merencanakan tetapi juga percaya."

Setelah usaha dimulai, tentu ada banyak hal - hal yang perlu diketahui untuk mampu mengelola semangat dengan baik dan dapat bertahan lebih lama. Dalam memulai suatu langkah dalam kehidupan memang dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasikan diri _ hal ini sangat berguna buat Anda untuk mengasah kepekaan dan menjunjung tinggi kejujuran dalam menjalani hidup.

Ada kalanya hidup melalui masa - masa sulit, yaitu mulai dari jatuh bangun hingga mengalami masa mencapai sukses. Namun untuk memperoleh semua tidaklah semudah yang dibayangkan. Semua tergantung bagaimana kegigihan dan keuletan dalam memperjuangkan kehidupan ini. Jika berpegang pada semangat dan ulet, tentu akan memperoleh hasil yang membanggakan. Tetapi banyak pula yang justru melempem dan tidak bersemangat sehingga hidupnya pun tidak mendapat pencerahan.

Dalam mengarungi kehidupan ini bukanlah hal yang mudah : gampang diucapkan tetapi sulit untuk dijalankan ! Untuk mempertahankan "semangat" dalam membangun kehidupan yang lebih baik diperlukan "energi" untuk memompa semangat dalam mencapai sasaran. Itu keharusan !!! jika ingin menebarkan ”semangat kebaikan” di sekitar kehidupan ini.

Action, saatnya bertindak. Kesuksesan hari esok adalah hasil dari kerja keras hari sekarang. kita harus jujur pada diri bahwa diri ini pernah dan hingga sekarang masih dilingkupi rasa malas. Rasa malas harus diperangi !!! Malas membunuh potensi diri. Bagaikan sebuah mobil yang sudah full terisi bensin, sudah dicek remnya dan segala macamnya dan sudah siap dijalankan, tapi tak ada yang mengendarainya. Maka berdirilah! Diri inilah yang menjadi sang penggeraknya. Bukan orang lain. Mobil itu adalah milik kita. Raga itu adalah raga kita.

Controling, bersiaplah untuk mengendalikannya!

Banyak cara untuk mengatasi rasa malas ini. Buanglah rasa kantuk dalam diri. Freshkan lah pikiran dan jiwa anda. Motivasikanlah diri anda.

Cara yang paling efektif adalah JUST DOIT !!! LAKUKAN SAJA !!! Jangan berfikir apa-apa lagi. JUST DOIT ! NO REASONABLE !!! LAKUKAN SAJA ! TIDAK ADA ALASAN !!! Lakukanlah, jangan banyak alasan. Toh sudah memikirkannya, sudah menjadwalkannya, kini saatnya bertindak. Lakukanlah ! Kesuksesan hari esok adalah hasil dari kerja keras hari ini. Kalau toh besok anda tidak mendapat apa-apa. Maka yakinkan diri anda, anda sudah berusaha maksimal. Kalau esok tak berhasil, maka bersyukurlah anda telah memanfaatkan waktu dengan baik. Tidaklah merugi orang yang memanfaatkan waktu dengan baik.

Ibarat menggerakan sebuah roda besar. Roda itu adalah cita-cita anda. Cita-cita anda yang besar. Saat pertama anda menggerakan, terasa berat, terasa menyiksa. Tapi itu adalah sebuah roda. Pada putaran pertama memang terasa berat. Tapi pada putaran selanjutnya maka akan terasa lebih ringan. Malah dibeberapa putaran selanjutnya hampir tidak terasa sama sekali.

Maka mulailah sekarang juga. Yakinlah esok anda akan berjaya. Tidak ada penyesalan bagi orang yang berusaha. Tahukah perbedaan orang sukses dan orang gagal. Orang gagal adalah orang yang hanya sedikit menghadapi kegagalan. Lalu ia berhenti karena merasa gagal. Orang sukses, adalah orang yang lebih banyak mendapatkan kegagalan dari pada orang gagal. Dan terus melaju sampai kemenangan didapatkan. Seorang bayi yang belajar berjalan akan mengalami berbagai kegagalan dalam pembelajarannya. Entah ia jatuh, terbentur, terpeleset. Tapi toh karena semangat dan usahanya dia akhirnya dapat berjalan, bahkan berlari dan melompat.

Maka dari itu bangkitlah dari kursi malas Anda. Tinggalkan televisi anda. Jangan cari-cari alasan !!! Saatnya anda bertindak !!! Saatnya anda menggerakan roda impian anda.

Dunia hanyalah persinggahan. Kampus kehidupan. Tempat kita belajar mencari bekal untuk kehidupan "berikut" yang kekal. Belajarlah sebaik mungkin. Lulus lah dengan baik. Luluslah dengan mendapat gelar Cum Laude. Janganlah terlalu banyak tertidur. Sebagaimana syair Arab:

Wahai sahabat sang kasur

Engkau telah terlalu lama tertidur

Tidakkah kau tahu bahwa setelah kematian

Adalah waktu yang panjang untuk tidur?

Setiap orang sudah diberi modal oleh sang Pencipta. Bukan ketampanan, bukan kecantikan, bukan harta warisan, melainkan waktu.

Waktu bukan bertambah kawan. Tapi berkurang.

Evaluasi, senantiasa untuk meluangkan waktu sesaat di setiap harinya untuk melihat ”kilas balik” segala hal yang telah kita lakukan dengan obyektif. Hal pertama yang dibutuhkan adalah kemauan untuk menyediakan waktu. Kadang kala, karena kesibukan yang dimiliki, waktu khusus untuk mengevaluasi diri secara obyektif nyaris dan bahkan tidak ada.

Selain meluangkan waktu, hal kedua yang kita butuhkan adalah keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri – ini adalah faktor yang sangat penting, karena sering kali tidak bisa atau tidak dapat melihat diri secara obyektif. Terkadang menganggap diri ini adalah yang terbaik, padahal belum apa-apa.

Hal ketiga yang kita butuhkan dalam mengevaluasi diri adalah mendengar input atau masukan dari orang lain. Keterbukaan untuk menerima masukan dari orang lain akan mendatangkan manfaat bagi diri sendiri. Untuk dapat mengenali kelemahan-kelemahan secara obyektif, perlu mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak suka atas apa yang telah dilakukan. Biasanya, orang-orang yang tidak suka dapat dengan jeli dalam mencari dan melihat apa yang menjadi kelemahan orang lain. Sahabat atau teman –walaupun ingin menyampaikan kritikan atau koreksian– biasanya akan menggunakan bahasa yang lebih halus sehingga kadang-kadang justru mengaburkan maksud yang sesungguhnya.

Lalu hal keempat yang juga perlu kita lakukan adalah mencoba untuk menilai segala sesuatu secara obyektif dan bukan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ketika membandingkan diri dengan orang lain, akan selalu bisa menemukan orang-orang yang jauh di bawah kita atau di atas kita. Mari belajar membandingkan diri dengan potensi yang kita miliki. Saya mendapati bahwa orang-orang yang suka merenung dan melakukan evaluasi diri memiliki kemampuan untuk mengenali titik lemah dan titik kekuatan yang ia miliki, juga mampu membandingkan dirinya dengan potensi yang seharusnya ia miliki. Dari situlah orang-orang semacam ini menjadi terpacu untuk memaksimalkan hidupnya lebih lagi.
Jika keempat hal ini dilakukan bersama-sama, akan jauh lebih mudah untuk mengenali adanya potensi-potensi lain dalam diri yang belum ter-explore selama ini, sehingga di masa yang akan datang dapat menetapkan langkah-langkah untuk menggali dan mengembangkan potensi-potensi yang masih tersembunyi itu.

Ada beberapa langkah yang perlu diambil untuk mengaplikasikan perenungan menjadi sebuah tindakan nyata. Yang pertama, fokuskan evaluasi pada kekurangan/kelemahan dan potensi-potensi yang belum tersentuh dalam diri. Setelah itu, mulai buat perencanaan yang sistematis dan ambil langkah-langkah radikal untuk menanggulangi kekurangan/kelemahan tersebut. Di sisi lain, mulai mencari cara untuk menggali dan mengembangkan potensi-potensi yang selama ini masih terpendam dalam diri. Dengan melakukan hal ini secara konsisten, pasti akan mulai melihat kemajuan yang signifikan.

Menjadi karakter dewasa adalah PILIHAN !! Bersiaplah untuk menjadi DEWASA atau TUA....saya, anda, kita, dan rekan-rekan yang memilihnya.

Sukses untuk memilih, dan berusaha untuk selalu memilih pilihan TERBAIK, yaitu bermanfaat bagi diri, orang lain dan lingkungan....Tunggu apa lagi??!!


Salam SOBAT !!


Seta A. Wicaksana, M.Psi.

(i/o Psychologist)


Humanika Consulting

Jalan Kalibata Tengah No. 4A

Jakarta 12740

Phone : 021-68211673 / 021-70787382

Fax : 021-7975845

wicaksana@humanikaconsulting.com

NEXT TOPICS

  • Berpikir 'DAN' bukan 'ATAU'
  • Berpikir Induktif
  • Berpikir Ekstrapolatif
  • Mental KERE
  • Kompromi Bukanlah Win-Win
  • Gagal itu juga Sukses!
  • Tujuan Nan Takkan Pernah Gagal
  • QUIZ Sobat
  • Konsep WEIJI
  • Jangan Menghormati PERBEDAAN!

Very Inspiring Video

Recent Comments