Artikel Terkini Semua Orang Bisa Hebat

New SOBAT 2009 - Secret Of Being Appreciated Tactfully

SOBAT 2009 New Release...New Formula For Individu... Menampilkan Rahasia bagi Individu untuk menjadi luar biasa. Tekanan pada individu bukan berarti meninggalkan unsur kerjasama sebagaimana pada SOBAT Pertama "Panduan Tim Berkinerja Tinggi". Silakan ikuti Trainingnya... ____________________________________________

Memberdayakan Team

0

Written on 11.1.09 by Higo Mithe

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #063



Persoalan yang tidak kalah pentingnya bila anda bertanggung jawab sebagai Team Leader atau sebagai Fasilitator bagi sebuah team adalah menciptakan iklim yang hidup, penuh dengan gairah serta motivasi yang membara bagi team anda. Sebagai Team Leader, anda dihadapkan pada dua kesibukan yakni berperan dan bertindak sama seperti anggota team yang lain, namun sekaligus bertanggungjawab pula atas perkembangan team dengan menjadi fasilitator, penggerak dan motivator team.Banyak kelompok kerja yang terbentuk hanya karena mereka memang harus dikelompokkan atas dasar kesamaan tugas, spesialisasi pekerjaan, kesamaan gender, serta berbagai kesamaan yang lain. Pengelompokan seperti ini jelas berbeda platform atau dasar pijakan dengan jiwa pembentukan sebuah team yang justru berlandaskan atas keberagaman dan perbedaan yang dimiliki setiap anggota (building on differencies) baik berupa keterampilan, pengetahuan, bakat, kekuatan fisik maupun pengalaman, latar belakang budaya, sifat dan karakter individu anggotanya.Tentu menjadi tantangan tersendiri bagi team leader atau fasilitator untuk membangun team yang ‘hidup’, yang memiliki dinamika tinggi dan haus tantangan.

Didalam organisasi kerja dan team, memberdayakan membawa beberapa pengertian utama antara lain:

1. Memberikan kekuatan atau menjadikannya berdaya.
2. Memberikan kesempatan bagi anggota untuk memperbaiki organisasi
3. Cara dalam menata (structuring) kewenangan dan tanggung jawab kepada setiap anggota untuk mengendalikan sepenuhnya keputusan yang mereka buat.

TENAGAKetiga pengertian diatas semuanya diwarnai oleh satu hal yang sama yakni pendistribusian kekuasaan atau kewenangan (kepada setiap anggota) yang menjadi unsur utama seseorang menjadi berdaya, sehingga setiap individu memiliki kekuatan untuk menggerakkan semua potensinya dan bertindak atas prakarsa dari dalam dirinya, tidak sekadar menunggu perintah.
Pendistribusian kekuasaan ini merupakan manifestasi dari prinsip dasar yang dianut yakni manusia adalah aset yang paling berharga dalam sebuah organisasi. Manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki potensi yang mampu dikembangkan terus menerus, tidak terbatas serta tidak akan habis karena memiliki sumber dari segala sumberdaya yakni akal dan terutama

BUDIKonsep ini tidak akan dianut apabila paradigma yang melandasinya memandang manusia sebagai pemilik tenaga fisik saja. Anda akan menjadikan mereka angka yang dapat dijumlahkan, dikalikan, atau dibagi secara linier begitu saja. Para birokrat menyebutnya tenaga kerja. Kemampuannya dihitung berdasarkan besaran kuantitasnya. Konsep buruh adalah cara pandang seperti ini. Sistem perlakuan yang diterapkan pada konsep buruh didasarkan pada paradigma ‘command and control’ atau perintah dan pengawasan. Orang dipandang sebatas leher ke bawah (neck down).

Konsep pemberdayaan juga tidak akan dipilih andai anda hanya memandang manusia sebagai makhluk berakal plus sedikit tenaga. Orang menyebutnya dengan ‘sumber daya manusia’, sekawan dengan sumberdaya yang lain semisal bahan baku, uang, mesin atau peralatan, yang menjadi perangkat penggerak operasi organisasi, sehingga perlu dikelola dengan optimal. Para pengusaha menyebutnya karyawan. Konsep ini masih berlandaskan paradigma command and control dengan tekanan utama pada control-nya karena SDM adalah makhluk yang tidak dapat dipercaya. Prosedur dan peraturan dibuat ketat dan kaku.

Dalam konsep pemberdayaan, manusia dipandang sebagai 'manusia', yang memiliki budi bermuatan nilai-nilai luhur yang mampu menggerakkan akal pintarnya untuk menemukan cara-cara terbaik dan kemudian memerintahkan tubuh untuk bergerak secara optimal. Di dalam konsep pemberdayaan, manusia dilihat sebagai asset utama yang bertindak sebagai subyek penggerak organisasi, bukan sebagai obyek untuk dikelola. Manusia perlu dibimbing dan dipimpin, sekali lagi, bukan dikelola.

CIRI- CIRI PEMBERDAYAANPemberdayaan dapat berjalan dengan baik apabila didukung dengan baik oleh lingkungan atau organisasi yang memberdayakan (empowered organization). Organisasi atau lingkungan yang menyediakan peluang secara luas serta merangsang para pelakunya (manusia) untuk mengembangkan diri dan mengeluarkan seluruh potensi dirinya secara maksimal. 

Ciri-ciri organisasi yang memberdayakan antara lain adalah memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk:

1. Memperkaya muatan pekerjaan (job content), tidak kaku sebatas deskripsi pekerjaan yang formal.
2. Mengembangkan keterampilan dan pengetahuan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan.
3. Merangsang kreativitas dan inovasi.
4. Lebih banyak mengendalikan dan mengambil keputusan atas pekerjaan.
5. Memberikan kepuasan kepada pelanggan.
6. Memelihara orientasi terhadap pasar.

Lingkangan yang demikian akan menjadi lahan subur bagi persemaian pemberdayaan para anggotanya. Orang yang terberdayakan, empowered people, memiliki ciri nyata yakni:

1. Merasa bertanggung jawab
2. Pemecah masalah yang aktif (active Problem Solver)

Adapun tim yang terberdayakan memiliki ciri-ciri:

• Giat bekerjasama untuk memperbaiki kinerja team secara kontinyu.
• Mengejar standar produktivitas yang tinggi.

Peran pemimpin organisasi dan juga team leader sangat vital dalam memfasilitasi terciptanya lingkungan yang memberdayakan serta memimpin anggotanya menjadi empowered dan membentuk team yang terberdayakan.

Pertanyaan yang sering muncul dan bersifat dilematis adalah sejauh mana kebebasan harus diberikan demi peluang menciptakan kreativitas dan apakah pengendalian (control) harus ditinggalkan sama sekali?

Yang perlu diingat pertama adalah tujuan pemberdayaan itu sendiri yaitu memberikan kepuasan pelanggan dengan menciptakan kualitas yang tinggi sehingga pelanggan mendapatkan manfaat sebesar-besarnya. Mengenai manfaat dan nilai tambah, silakan baca juga pembahasannya pada artikel 'Tentang Nilai Tambah'.

Kedua hal itu hendaknya tidak dipandang sebagai dilema tetapi saling melengkapi, karena keduanya memang diperlukan untuk tujuan yang sama yaitu kualitas dan kepuasan pelanggan. Demi kualitas dan kepuasan pelanggan yang tinggi itulah yang menjadi acuan pemberian kebebasan maupun pemberlakuan pengendalian.

Kebebasan diberikan untuk mengejar kreativitas sedangkan pengendalian diberlakukan untuk menjamin kualitas yang tinggi serta pemanfaatan sumberdaya secara optimal mengingat sifatnya yang terbatas. Jadi, persoalannya terletak pada menemukan keseimbangan yang tepat antara keduanya sebagaimana ilustrasi dibawah ini.


11 Kualitas Leader dan Team dalam Krisis

0

Written on 3.1.09 by Higo Mithe

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #062



1. Tenang dan Terkendali.
Menunjukkan sikap tenang dan emosi yang terkendali akan menjadi dasar untuk bertindak secara benar. Leader atau anggota team yang terlihat kehilangan kendali saat krisis terjadi akan mempengaruhi dan menularkan sikapm itu kepada yang lain.

2. Perhatian pada Manusia.
Mengingat Team Yang Hebat menganut kepemimpinan bersama, Leader atau anggota team harus memprioritaskan keperhatiannya pada manusia sebagaimana seorang pemimpin yang baik. Karena kepemimpinan pada hakekatnya adalah soal manusia, dan apakah sedang krisis atau tidak, pemimpin yang baik selalu memberikan fokus pada manusia.

3. Giat Berkomunikasi.
Leader atau anggota Team Yang Hebat menguasai setiap pola komunikasi antara lain: Mendengarkan apa yang dikatakan anggota lain; Menemui sebanyak mungkin orang atau kelompok lain; Memperhatikan rantai aksi dan reaksi di sekitarnya; Mengunjungi secara langsung lokasi krisis; Memberitahu anggota lain apa yang diharapkan selanjutnya dan bagaimana gambaran besar rencana serta apa yang dapat terjadi pada mereka; Bilapun tidak ada kabar baik, akan lebih baik bila tetap memberi tahu apa yang telah dikerjakan ketimbang membiarkan gossip dan ketakutan menyebar tidak terkendali; Menetralisir rumor dan mengelola agenda informasi secara rutin serta faktual.

4. Menetapkan Prioritas.
Sangatlah penting untuk menetapkan dan mengkomunikasikan prioritas sejak awal. Leader atau anggota team perlu menetapkan sejak awal aktivitas apa yang paling berharga bagi seluruh anggota dan kemudian mengerjakannya dengan enerjik.

5. Meletakkan Harapan.
Napoleon Bonaparte menyebut para pemimpin sebagai “agen harapan” terutama saat para anggota diselimuti rasa putus asa. Peran Leader atau anggota Team Yang Hebat, sebagaimana pemimpin yang baik, adalah menciptakan harapan, memperbarui visi, menjadi orang yang optimis, membantu orang lain melihat melampaui kesulitan yang ada, dan membuat mereka bergerak kembali menuju tujuan bersama.

6. Meyakinkan Kembali Pelanggan.
Memberikan kepastian dan meyakinkan kembali pelanggan yang ragu atau terguncang kepercayaannya akibat krisis dengan. menyediakan jaminan yang mereka perlukan.

7. Terlihat Kehadirannya.
Sangatlah penting bagi Leader atau anggota Team Yang Hebat untuk terlihat kehadirannya, agr tidak terkesan menghindar atau melarikan diri dari kesulitan. Orang atau anggota lain perlu melihat dan mendengarkan kita sejak awal dan selama krisis. Bahkan hanya sekadar hadir saja sudah akan meningkatkan moral dan kepercayaan terutama saat-saat yang paling dibutuhkan.

8. Kembali ke Tugas.
Membuat setiap orang segera kembali bekerja juga menjadi prioritas utama. Usahakan agar segera dapat mengembalikan urusan sehari-hari berjalan lagi dengan menetapkan kembali tatanan, yakni suatu pola perilaku dimana orang dapat mulai merasakan produktif lagi, dan kesibukan mereka akan dapat mebuat mereka segera menghilangkan derita akibat krisis.

Usahakan agar segera menetapkan cara baru dalam melakukan pekerjaan dan membantu setiap orang menggunakan metoda baru itu. Ciptakan pula kesadaran baru atas tujuan bersama karena sangat esensial dalam proses pemulihan para anggota, pelanggan, pemasok, dan stakeholder lainnya.

9. Manusiawi.
Leader atau anggota Team Yang Hebat menyadari bahwa situasi “normal” mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat dan orang membutuhkan untuk dihibur, didukung dan dimengerti lebih dari sebelumnya. Hendaknya anda dapat menerima situasi yang tidak produktif dalam jangka waktu yang pendek dan membangun iklim yang suportif agar orang segera dapat memulihkan fokus perhatian dan kinerja mereka.

Sebagai orang yang berbelas kasih, anda dapat membantu menurunkan tingkat stres orang dengan memfokuskan mereka pada masa depan bukan masa lalu, serta dengan mengarahkan usaha mereka pada hal-hal yanag dapat dikerjakan untuk mencapai hasil dalam jangka pendek.

Leader atau anggota Team Yang Hebat haruslah kuat dan mengilhami, sehingga secara psikologis meyakinkan orang lain dan mereka dapat merasakan bahwa anda ikut berbagi merasakan penderitaan mereka.

10. Fokus pada Tindakan.
Leader atau anggota Team Yang Hebat cepat mengetahui dan menerima kenyataan baru, dan cepat pula fokus untuk mengambil tindakan yang membuahkan hasil terbaik. Mereka tahu orang-orang disekitarnya ingin segera melihat tindakan.

Lakukan pertemuan untuk mengumpulkan fakta, membuat rencana, mengaambil keputusan, dan laksanakan dengan melibatkan semua anggota. Pelibatan ini akan akan membuat mereka merasa berguna.

Selain itu, kenalilah aktivitas-aktivitas yang perlu disesuaikan dengan situasi baru. Dan jangan lupa pula memberikan pujian dan penghargaan kepada orang-orang yang secara spontan berinisiatif atau menonjol dalam bertindak dengan berani atau inovatif selama krisis. Tampung dan pupukalah semangat mereka yang berkobar dan tawarkan bantuan konseling untuk mempercepat kemampuan mereka menghilangkan trauma. Dari sini tugas anda selanjutnya adalah menciptakan momentum baru yang kuat.

11. Membangun ‘Kesatuan Jiwa’.
Kualitas terakhir yang harus anda miliki sebagai Leader atau anggota Team Yang Hebat adalah persaudaraan. Sangat penting untuk membangun ikatan emosi bersama dengan melayani keinginan orang untuk memiliki rasa kepemilikan dan ‘kesatuan jiwa’ demi menggantikan yang telah hilang akibat krisis.

Main Sponsors

<

Very Inspiring Video