Showing posts with label Team. Show all posts
Showing posts with label Team. Show all posts

Sadar Tujuan

Sadar akan tujuan atau sense of purpose merupakan syarat pertama yang mutlak harus dimiliki oleh sebuah tim berkinerja hebat. Semua anggota tim memahami secara pasti tujuan tim maupun tujuan dari setiap tugas. Sense of purpose berkaitan dengan visi. Mereka paham dan menghayati betul mengapa harus bergabung dalam suatu kelompok karena mengetahui dan menghayati visi yang akan dituju. Mereka tahu tidak akan berhasil bila tidak bekerja secara kelompok, atau hasilnya tidak akan maksimal. Setiap individu merasa saling bergantung satu dengan yang lain.

Pemahaman yang pasti terhadap visi atau tujuan akan memupus keraguan dalam mengambil keputusan dan dalam bertindak. Disisi lain, visi yang baik dan dipahami dengan benar akan menumbuhkan komitmen para anggota tim. Komitmen, sebagaimana dijelaskan pada artikel tedahulu "Integritas", merupakan modal utama dalam mencapai tujuan.

Visi yang baik, yang menumbuhkan komitmen, mengandung minimal satu dari dua hal berikut:
  1. Bermakna
  2. Bermanfaat.
Visi yang bermakna, adalah visi yang mempunyai arti tersendiri bagi tim dan anggotanya. Visi itu memiliki bobot, khasanah ataupun ikatan yang kuat bagi kepuasan batin seseorang bila ia berhasil menggapainya. Makna yang dalam, yang bisa juga menyangkut keyakinan dan nilai moral tertentu, mampu membuat seseorang terpanggil untuk berkomitmen secara mutlak. Contoh sederhana ditunjukkan oleh para Abdi Dalem Keraton Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Dengan gaji yang terbilang sangat tidak berarti saking rendahnya, mereka tetap merasa terpanggil dan bangga menjalani profesinya sebagai pegawai keraton, mengabdi bagi Sang Sultan yang sangat dihormatinya. Mereka meyakini sedang mengambil bagian yang mulia dan sangat berarti dalam tatanan hidup di lingkungannya. Disini uang bukanlah ukuran. Contoh lain adalah para pahlawan, para atlit amatir atau para relawan kemanusiaan. Dan juga mungkin pelaku bom bunuh diri.

Adapun visi yang bermanfaat adalah yang hasil akhirnya mampu memberikan kegunaan besar bagi para anggota yang bergabung didalamnya. Meskipun tidak selalu harus berarti materi, manfaat yang mampu memberikan dampak besar, terukur, dan secara langsung bisa dinikmati serta tampak kasat mata biasanya memang yang berkaitan dengan hal-hal fisik: uang, jabatan, rumah besar, kemashuran, kekuasaan dan sejenisnya. Manfaat material ini banyak digunakan untuk membangun komitmen sebuah tim. Namun perlu diingat bahwa visi yang bermanfaat saja tanpa dimuati dengan makna yang dalam biasanya akan berakhir di tengah jalan karena sifat manuasia yang oportunis. Bukankah Tuhan pun memanfaatkan sikap oportunis kita dengan menjanjikan hal-hal hebat jika kita mau melaksanakan kehendaknya? Sebut saja pahala yang akan kita terima di bulan Ramadhan yang senilai dengan seribu bulan yang lain, atau kesembuhan fisik yang ajaib bila kita pergi dan berdoa di Lourdes.

Oleh karena itu, visi yang bermanfaat haruslah berdiri diatas pondasi tiga nilai dasar diatas agar terwujud tuntas. Tanpa pondasi integritas, mental berkelimpahruahan dan tingkat maturitas yang tinggi, perjalanan tim mewujudkan hasil akhir yang besar akan ditelikung dan dikhianati oleh para oportunis. Dalam situasi ini, betapapun kerasnya para pemimpin mendengking ‘jangan mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok’, akan menjadi sia-sia bahkan terlihat absurd.

Sadar akan tujuan juga berarti memahami secara pasti hasil akhir yang ingin diperoleh. Tim yang hebat biasanya memeriksa dan memastikan dengan tegas hasil akhir itu sebelum bertindak. Pemahaman atas hasil akhir sering tidak mudah justru karena kita menganggap mudah dimengerti. Kita sering terkecoh dengan pola berpikir kita sendiri sehingga tujuan sesungguhnya tidak kita pahami dengan benar. Persepsi yang membelenggu kita sering pula menyeret kita pada cara penyelesaian dan cara kerja berdasarkan ‘rumus umum’ yang tampaknya benar.

Sadar akan tujuan akan membuat orang memiliki pegangan arah dan tidak mudah kehilangan orientasi apabila berhadapan dengan persoalan-persoalan yang dilematis. Apalagi dengan tujuan yang sarat makna, orang tidak akan mudah putus asa dan akan berusaha keras mencari jalan lain untuk menuju kesana. Ibarat sedang menuju Monas untuk menghadiri pernikahan anda, bila anda terjebak macet tentu anda akan berusaha keras mencari jalan alternatif lain meski jalan tikus sekalipun. Anda tentu tidak mudah menyerah dan pulang begitu saja karena mempelai anda menunggu disana.

Mengukur Efektivitas Team

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #040



Sering orang terkecoh dengan tampilan luar dari sebuah team, karena banyak team yan tampak akrab dan solid ternyata tidak menghasilkan kinerja yang tinggi. Mereka hanya akrab untuk berkumpul bersama, bercengkerama dan membuang waktu namun tidak produktif.

Bahkan ada pula yang tampak produktif tetapi sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa. Kok bisa?Keadaan seperti ini biasanya akan sanat membuat frustrasi team leader atau para anggota team itu sendiri, tanpa tahu kenapa mereka bekerja sia-sia.

Untuk itu SOBAT menyusun metoda untuk menganalisis efektivitas kerja team yang dapat dengan mudah dilakukan oleh team itu sendiri, dan memang hars demikian karena para anggota team-lah yang tahu dengan sebenarnya bagaimana suasana dan kehidpan team mereka.

Dengan memahami formulasi team berkinerja hebat dan mencoba mempraktekkannya anda boleh berharap team akan menghasilkan kinerja yang menggembirakan. Namun mengingat begitu banyak hal yang harus dilkukan dan diperhatikan dalam mengelola sebuah team, harapan anda itu tidak selalu dapat terwujud. Dalam hal demikian team anda hendaknya melakukan analisis dan evaluasi yang menyeluruh dan rinci mengenai efektivitas kerja team anda.

Kritikal vs Efektivitas

Dua faktor utama penyebab tidak efektifnya sebuah team yaitu:
  1. Mengerjakan hal yang salah, tidak kritikal, atau hal yang sebenarnya tidak perlu dikerjakan - dikenal dengan istilah ‘doing the wrong things’, dan
  2. Tidak efektif - tidak mengerjakan hal yang benar, yang seharusnya dilakukan atau ‘not doing the right things’.
Diagram dibawah ini menggambarkan keadaan yang dapat terjadi pada sebuah team:

Kotak kiri atas (Right Things Right) menggambarkan kekuatan sebuah team karena team telah mampu melihat hal-hal yang perlu dikerjakan (kritikal) dan mampu pula mengerjakannya dengan benar (efektif).

Namun sering dijumpai team tidak jeli melihat esensi dari tujuan sebuah pekerjaan atau keliru mempersepsikannya sehingga meskipun mampu mengerjakannya dengan benar dan efektif, hasilnya menjadi sia-sia (kotak kanan atas). Disini pilar sense of purpose atau Sadar Tujuan (lihat artikelnya disini) menjadi hal yang penting untuk dikuasai oleh anggota team.

Adapun kotak kiri bawah (Right Things Wrong) menunjukkan bahwa team telah mampu mengidentifikasi hal-hal yang benar, yang memang perlu dikerjakan, namun belum efektif dalam mengerjakannya. Disana-sini masih sering mengalami kesalahan atau kegagalan karena berbagai sebab. Anggota team mungkin belum terampil menanganinya. Namun dengan terus dan terus berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahan, team pada saatnya akan mampu melakukannya secara efektif.

Oleh karena itu kotak ini disebut kotak peluang. Pada umumnya team yang berhasil mengalami hal ini di tahap-tahap awal kehidupannya.

Sedangkan kotak kanan bawah menunjukkan bahwa team memiliki beban yang berat untuk dapat berhasil, karena disamping tidak mampu melihat hal-hal yang perlu dikerjakan, team juga tidak memeiliki keterampilan untuk mengerjakannya dengan baik. Peluang team untuk berhasil menjadi sangat kecil dan memerlukan usaha yang lebih berat dan lama untuk mengatasi kedua kelemahan itu.

Dengan demikian, untuk mengukur efektivitas kerja sebuah team, yang harus diamati adalah unsur kritikal atau perlu tidaknya suatu tugas dikerjakan, serta unsur efektif tidaknya tugas itu dikerjakan. Dari sini team dapat meningkatkan kekuatannya atau merubah peluang mejadi kekuatan, atau menghentikan upaya yang sia-sia, atau membuang beban yang memberati team untuk sukses.

SOBAT menyusun kuesioner untuk menganalisis efektivitas team yang memuat 50 tugas, yang dengan mengisi/menjawabnya analisis itu dapat dilakukan oleh team sendiri. Hasil pengisian kuesioner ini kemudian dikelompokkan ke dalam 4 kotak diatas agar mudah mengetahui seberapa banyak kekuatan, peluang, usaha sia-sia dan beban yang dimiliki team.

Pengelompokan dilakukan berdasarkan tingkat efektivitas dan kritikal sebagai berikut:

Rencana Aksi Perbaikan
Pertanyaan penting dari hasil analisis diatas adalah “Mengapa demikian?” dan “Lalu bagaimana?”. Untuk itu anda dapat menggunakan daftar pertanyaan diawah ini untuk membuat rencana perbaikan yang konkrit tentang langkah-langkah yang perlu diambil dan dikerjakan bersama.

Tujuan rencana aksi perbaikan ini yaitu:
  1. Meningkatkan kemampuan team melakukan Right Things Right,
  2. Memindahkan atau merubah hal-hal yang perlu dilakukan oleh team secara efektif dari kotak Right Things Wrong ke kotak Right Things Right, dan
  3. Menghentikan semua tindakan yang mengandung Wrong Things.
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini team anda dapat mengembangkan rencana perbaikan dengan sistematis dan membuat langkah-langkah nyata yang diperlukan untuk itu.

  1. Tugas-tugas apa yang sudah efektif - perlu (Right Things Right) yang perlu dipastikan untuk terus dilakukan, atau ditingkatkan?
  2. Bagaimana meningkatkan efektivitas pada tugas-tugas yang sudah efektif – perlu itu?
  3. Tugas-tugas apa saja yang terdapat di dalam kotak Right Things Wrong yang harus ditingkatkan efektivitasnya?
  4. Bagaimana meningkatkan evektivitas tugas-tugas pada butir 3 itu agar berubah dari Right Things Wrong menjadi Right Things Right?
  5. Bagaimana caranya agar dapat menghentikan melakukan tugas-tugas yang tidak kritikal yang terdapat di dalam kotak Wrong Things Right dan Wrong Things Wrong?
  6. Perubahan-perubahan apa yang diperlukan di dalam team yang akan memberikan dampak terbesar pada efektivitas team?
  7. Siapakah yang ditunjuk untuk mengerjakan apa, kapan, dimana, seberapa banyak, dan tujuannya apa?
  8. Bagaimanakah cara untuk menentukan atau melihat kemajuan menuju hanya mengerjakan Right Things Right?
Rencana aksi perbaikan nyata ini hanya akan menjadi kenyataan apabila team anda menindaklanjutinya dengan tindakan yang nyata pula. Tanpa itu tentu hanya akan nyata diatas kertas.

Mengukur Posisi Team Anda

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #031



Untuk mengetahui keberadaan sebuah team di dalam tahap-tahap perkembangan kehidupannya, anda dapat menggunakan model pendekatan yang dikenal dengan Tuckman’s Questionaire and Stages Scoring Board. Tujuan pendekatan ini adalah mengetahui sedang pada tahap apa sebuah team berada saat pengukuran itu dibuat, khususnya menyangkut empat tahap kehidupan yaitu Forming (sandiwara), Storming (Sengit), Norming (Selaras), serta Performing (Solid).

Pada bagian kuesioner terdapat 32 pernyataan yang disusun dengan sistematika tertentu dan anggota team diminta untuk memberikan skore berupa angka 1 hingga 5 sebagai berikut :

Hampir tidak pernah= 1, Jarang= 2, Kadang-kadang= 3, Sering= 4, Hampir selalu= 5

Nilai-nilai yang diperoleh dari setiap pernyataan kemudian diisi ke dalam kolom yang sesuai pada lembar scoring board yang telah disusun sedemikian rupa sesuai dengan sistematika tertentu yang diterapkan pada 32 pernyataan dalam lembar questionaire.

Apabila setiap anggota team atau lebih dari satu orang mengisi kuestioner tersebut maka hasilnya hendaknya dikompilasi dengan cara:

  1. Mendiskusikan perbedaan nilai yang ada dengan mengklarifikasi fakta-fakta yang dilihat sebagai pendukung nilai tersebut. Dengan fakta-fakta yang saling melengkapi tim lalu menyepakati nilai bersama yang dianggap paling sesuai untuk item tersebut.
  2. Menghitung nilai rata-rata atas item tersebut. Cara ini tidak cukup baik bila tidak dilakukan klarifikasi fakta terlebih dahulu, dan cenderung menyederhanakan persoalan.

Lembar pernyataan dan scoring board berikut penjelasan analisisnya dapat anda simak dalam Lampiran 7 buku "Semua Orang Bisa Hebat", Grasindo, 2007. Atau hubungi SOBAT Training : klik saja menu "Kontak" di header (di bagian atas) halaman ini.

Lembar Penilaian
Lembar penilaian dibawah ini disusun sedemika rupa dengan sistematika tertentu sesuai dengan sistematika pada lembar pertanyaan dan pernyataan.

Item Skore

Item Skore

Item Skore

Item Skore

1. ___

2. ___

4. ___

3. ___

5. ___

7. ___

6. ___

8. ___

10. ___

9. ___

11. ___

12. ___

15. ___

16. ___

13. ___

14. ___

18. ___

20. ___

19. ___

17. ___

21. ___

23. ___

24. ___

22. ___

27. ___

28. ___

25. ___

26. ___

29. ___

31. ___

30. ___

32. ___

TOTAL _____

TOTAL _____

TOTAL _____

TOTAL _____

Tahap Sandiwara

Tahap Sengit

Tahap Selaras

Tahap Solid


Kuesioner ini membantu anda mengkaji pada stage apa tim anda saat ini beroperasi, berdasarkan model Tuckman yaitu Forming, Storming, Norming, dan Performing.

Nilai terendah untuk setiap stage adalah 8 yang berarti ‘Hampir tidak pernah’ sedangkan nilai tertinggi adalah 40 atau ‘Hampir selalu’. Nilai tertinggi diantara ke 4 kolom diatas menunjukkan stage team anda saat ini.

Jika nilai tertinggi tersebut 32 atau lebih, berarti indikasinya kuat. Nilai terendah pada suatu kolom berarti tim anda tidak seperti itu. Jika skore terendah itu 16 atau kurang, berarti indikasinya kuat.

Jika ada dua skore yang hamper sama, berarti team berada pada fase transisi, kecuali:
1. Jika yang sama itu Sandiwara dan Sengit, maka team anda berada di tahap Sengit.
2. Jika yang sama itu Selaras dan Solid, maka team anda berada di tahap Solid

Jika 3 atau 4 skore hampir sama berarti anda tidak memiliki persepsi yang jelas tentang team anda, atau memang berada di tahap Sengit yang memang sering bervariasi ekstrim antar nilai.

Belajar dari Angsa

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #022

Kita telah mengetahui bahwa ada sejenis angsa yang mampu terbang ribuan kilometer melintasi samudera luas ketika mereka harus beremigrasi ke belahan bumi yang lain (utara ke selatan dan sebaliknya) akibat pergantian musim. Bagaimana hal itu dapat mereka lakukan padahal bila seekor angsa mencobanya sendiri ia tidak akan mampu melakukannya? Ia akan kelelahan dan terjatuh di tengah laut.
Belajar Dari Angsa

“Pelajaran Dari Angsa” disampaikan pertama kali oleh Angeles Arrien pada ‘The1991 Organizational Development Network’ berdasarkan hasil penelitian Milton Olson, menghadirkan fakta-fakta sebagai berikut :




 Fakta 1:
Ketika semua angsa mengepakkan sayap-sayap mereka, akan terjadi daya dorong keatas (uplift) oleh udara. Dengan terbang membentuk formasi “V”, kawanan angsa itu dapat memperbesar jelajah terbang mereka hingga 71 % lebih jauh dibandingkan apabila seekor angsa terbang sendiri.

 Fakta 2 :
Bila seekor angsa keluar dari formasi, ia tiba-tiba merasakan ada gesekan udara (drag) yang besar yang membuatnya terbangnya terasa berat, sehingga ia enggan terbang menyendiri. Ia akan segera kembali ke formasinya, untuk mengambil keuntungan dari daya angkat udara yang dihasilkan oleh burung di depannya.

 Fakta 3 :
Jika angsa yang paling depan lelah, ia akan berputar ke belakang dan masuk ke dalam untuk mengambil keuntungan dari daya angkat udara yang dihasilkan oleh burung di depannya.

 Fakta 4 :
Angsa-angsa itu terbang dalam formasi bersuara nyaring (menerompet) untuk memacu burung di depannya agar tetap menjaga kecepatan mereka.

 Fakta 5 :
Jika seekor angsa menderita sakit, entah terluka atau tertembak jatuh, dua ekor angsa akan keluar dari formasi dan mengikuti untuk menolong dan melindunginya. Mereka akan tinggal bersama si korban hingga ia mati atau dapat terbang lagi. Lalu, mereka akan bergabung dengan formasi kawanan lain atau mengejar kelompoknya.

Setiap fakta diatas secara mengherankan menunjuk pada setiap unsur utama yang harus dimiliki sebuah tim agar dapat terbang jauh melintasi pencapaian yang mampu dibayangkan dapat dijangkau oleh perjuangan tunggal. Hasil luar biasa yang dipertontonkan alam sebagai fenomena yang biasa. Ini adalah sebuah bukti bahwa hasil luar biasa dapat diraih dengan cara biasa, cara yang disediakan alam sehari-hari, secara alamiah.

Kita memang bukan angsa, sehingga tidak secara otomatis disediakan oleh Sang Pencipta naluri kerjasama sebagaimana para angsa itu, tetapi dibekali hak istimewa berupa akal untuk mempelajarinya dan budi untuk menetapkan pilihan terhadap penggunaan pengetahuan dari hasil pembelajaran itu.

Pengertian Tim Versus Grup

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #008

Hampir setiap organisasi mempunyai kelompok-kelompok kerja dan menyebutnya sebagai tim semisal tim khusus X, tim antar fungsi, task force, tim pemecahan masalah Y, komite Z dan sejenisnya, tetapi biasanya hasil kerja mereka diperoleh dari kumpulan dari kontribusi-kontribusi individual. Disini, hasil kerja yang demikian bukanlah termasuk dalam konsep sebuah tim. Dalam konsep ini, tim memperoleh hasil kerja dari usaha bersama (collective effort) yang padu dalam kesatuan kerja.




Katzenbach dan Smith mendefinisikan tim sebagai “Sekelompok kecil orang dengan keterampilan yang saling melengkapi yang berkomitmen untuk maksud bersama (common purpose), menghasilkan tujuan-tujuan, dan pendekatan bersama dimana mereka mengikatkan diri dalam kebersamaan tanggung jawab (mutually accountable)”.

Kelompok kecil adalah kelompok dengan jumlah anggota berkisar antara 2 hingga 25 orang. Jumlah anggota antara 5 sampai dengan 9 orang dinilai optimal dan dapat dikelola dengan baik. Apabila jumlah anggota lebih dari 9 orang, komunikasi cenderung menjadi terpusat (centralized) karena para anggota tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk saling berbicara atau berinteraksi. Diperlukan waktu dan usaha ekstra untuk membangun komunikasi yang baik.

Keterampilan yang saling melengkapi akan menyediakan kemungkinan terciptanya sinergi karena tim memiliki peluang untuk mengkombinasikan beragam ide dan keterampilan yang tersedia. Bila sekelompok orang itu hanya membentuk diri sebagai kumpulan para individu, akan terbentuk apa yang biasa disebut sebagai cacat bawaan sebuah tim yakni kelompok para pemikir yang akan membatasi munculnya banyak ide yang diperlukan untuk memecahkan masalah secara kreatif.

Maksud bersama merupakan motor penggerak sebuah tim. Sebuah tim harus mengembangkan dan menetapkan maksud dan tujuannya. Maksud itu hendaknya bermakna dan dimiliki oleh setiap anggota, baik sebagai individu maupun kesatuan kelompok. Tim hendaknya secara teratur meninjau ulang maksud dan tujuaannya agar tetap relevan dengan perkembangan tim. Yang perlu diwaspadai adalah adanya agenda-agenda tersembunyi, yang dapat menghalangi perubahan sebuah kelompok menjadi tim. Motivasi dan emosi dari pemilik agenda tersembunyi biasanya tidak tampak di permukaan, tersembunyi di balik meja diskusi.

Menghasilkan tujuan-tujuan merupakan kekuatan yang mendorong dan menggerakkan sebuah tim. Tujuan-tujuan yang spesifik hendaknya ditetapkan, dikerjakan dan dievalusai selama proses tim bekerja. Hasil-hasil yang diperoleh akan menjadi small wins atau sukses-sukses kecil yang pantas disyukuri dan dirayakan demi menjaga dan membangkitkan semangat.

Pendekatan bersama adalah cara para anggota tim menyepakati bagaimana mereka akan kerja dalam satu kesatuan. Biasanya sebuah tim akan menetapkan aturan main tertentu yang menggaris-bawahi perilaku-perilaku yang diharapkan dari para anggotanya agar dapat bergerak bersama dalam irama dan semangat tertentu.

Kebersamaan tanggung jawab adalah aspek terakhir dalam kerjasama tim harus dikembangkan, yakni berbagi tanggung jawab dan rasa kepemilikan terhadap hasil yang dicapai.

Tim vs Grup.

Terdapat sejumlah faktor yang secara gamblang membedakan tim dengan kelompok atau grup, antara lain:

1. Peran dan Tanggung Jawab. Di dalam grup, individu menetapkan dan menempatkan perilaku tertentu di dalam garis organisasi yang disebut peran. Peran seseorang akan menentukan bentuk hubungannya dengan orang lain. Peran, di dalam grup, sering menjadi sumber kebingungan dan terjadinya konflik. Dilain pihak, tim membangun pemahaman bersama bagaimana para anggota mewujudkan peran mereka seperti antara lain, leader, pengumpul informasi, fasilitator, pengawas waktu, pencatat dan sebagainya, dalam menyelesaikan secara bersama sebuah tugas pekerjaan.

2. Identitas. Tim memiliki identitas yang kuat, sedangkan grup tidak, karena lebih untuk keperluan administratif saja.. Tim mermerlukan identitas karena hampir tidak mungkin membangun rasa keterikatan, yang merupakan karakter sebuah tim, tanpa hal yang mendasar ini. Tim memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang membuat tim ‘berjalan’ dan mengapa itu penting. Di dalam tim tergambar jelas apa yang ingin dicapai oleh tim, dan norma atau nilai-nilai apa yang menjadi panduan geraknya. Di dalam grup semua itu telah diatur dalam sistem dan prosedur baku.

3. Kohesi. Tim memiliki esprit yang menunjukkan rasa keterikatan dan kekerabatan. Esprit adalah semangat, jiwa, dan hati dari sebuah tim. Di dalam tim terdapat kesadaran yang tinggi dari para anggotanya untuk mengidentifikasi diri mereka dengan tim dan merasa menjadi bagian dari tim. Individu akan memulai dengan kata “kita” bukan “saya” dalam percakapan dan diskusi. Di dalam grup, ‘saya’ dijadikan hal yang penting untuk menunjukkan eksistensi maupun unjuk kerja pribadi sesuai deskripsi kerja yang menjadi dasar pengukuran prestasi yang bersangkutan.

4.Fasilitasi. Di dalam grup terdapat kecenderungan terjadinya kelambanan, kemacetan, bahkan terhentinya proses kerja karena hal-hal yang sepele. Tanyakan kepada diri anda sendiri, “Berapa banyak waktu yang terbuang percuma dalam rapat-rapat yang anda ikuti?” Tim menggunakan fasilitator untuk menjaga agar tim tetap dalam langkah yang pasti.

5. Komunikasi. Bila pada grup para anggota hanya memusatkan perhatiannya pada diri mereka sendiri sebagai pemegang peran tunggal tertentu, pada tim tidak demikian. Anggota tim memusatkan perhatiannya kepada tim secara utuh, kepada anggota yang lain, sehingga di dalam tim terbentuk komitmen untuk berkomunikasi secara terbuka. Anggota tim dapat merasakan bahwa mereka bisa menyatakan opini, pikiran maupun perasaan mereka tanpa rasa takut. Mendengarkan dinilai sebagai hal yang penting di dalam tim, sepenting berbicara. Perbedaan pendapat sangat dihargai dan metoda-metoda mengelola konflik dipahami. Melalui umpan balik yang penuh perhatian dan tulus, para anggota menyadarai kekuatan dan kelemahan mereka sebagai anggota sebuah tim. Didalam tim terdapat atmosfir saling percaya dan menerima, serta rasa menjadi satu komunitas.

6. Fleksibilitas. Grup biasanya bersifat rigid atau kaku dalam tugas dan pekerjaannya. Segalanya telah diatur dalam sistem dan prosedur baku, karena sifat pekerjaannya yang relatif rutin. Sebaliknya tim menjaga agar selalu memiliki fleksibilitas dan adaptabilitas yang tinggi untuk mengerjakan berbagai tugas dan fungsi yang berbeda sesuai situasi dan kebutuhan. Tanggung jawab atas perkembangan tim serta kepemimpinan di dalam tim dibagi bersama. Kekuatan setiap anggota tim diketahui dan dipergunakan sebaik-baiknya.

7. Moral. Sifat pekerjaan yang rutin membuat individu di dalam grup bekerja berdasarkan standar yang ada. Mereka tidak memiliki antusiasme tinggi untuk hal-hal seperti itu. Dilain pihak, para anggota tim merasa antusias terhadap pekerjaan tim dan setiap orang merasa bangga menjadi anggotanya. Semangat pada tim tinggi.

Bila sebuah grup ingin berubah menjadi sebuah tim yang berhasil, maka grup ini harus memiliki kemampuan menciptakan hasil kerja yang tinggi dan para anggotanya mempunyai tingkat kepuasan yang tinggi dalam bekerja bersama orang lain.

NEXT TOPICS

  • Berpikir 'DAN' bukan 'ATAU'
  • Berpikir Induktif
  • Berpikir Ekstrapolatif
  • Mental KERE
  • Kompromi Bukanlah Win-Win
  • Gagal itu juga Sukses!
  • Tujuan Nan Takkan Pernah Gagal
  • QUIZ Sobat
  • Konsep WEIJI
  • Jangan Menghormati PERBEDAAN!

Very Inspiring Video

Recent Comments