Tahap Sengit

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #026
Selepas masa Sandiwara tim masih harus bergulat keras dengan perjuangan internal tim sebagai konsekwensi dari keterbukaan komunikasi, yaitu Tahap Sengit (Storming). Berbeda dengan Tahap Sandiwara dimana keputusan relatif mudah diambil, pada tahap ini keputusan seringkali sulit disepakati karena bayak alternatif yang dimunculkan, banyak pula interupsi dan ketidaksetujuan, serta banyak pula silang pendapat. Perselisihan tidak jarang terjadi akibat salah paham atau ketersinggungan.

Tahap Sengit merupakan tahap transisi yang kritis, dan mungkin menjadi masa tersulit dalam tahap-tahap kehidupan tim. Setiap anggota mempunyai ide sendiri-sendiri bagaimana proses kerja mesti dilakukan, dan agenda-agenda pribadi tampak merajalela. Dari sini akan terjadi banyak benturan dan mereka kemudian mulai menyadari bahwa tugas-tugas yang dihadapi ternyata berbeda dan lebih sulit dari yang semula dibayangkan.

Ketidaksabaran terhadap kemajuan tim yang lamban juga memberi andil memicu anggota tim saling beradu argumentasi tentang tindakan apa yang harus diambil oleh tim. Mereka biasanya mencoba bersandar hanya pada pengalaman pribadi atau pengalaman profesional masing-masing, dan cenderung bekerja dengan caranya sendiri. Melalui sikap, gerak dan bahasa tubuh, tampak bahwa mereka menolak bekerjasama dengan anggota tim yang lain.

Beberapa perasaan dan perilaku yang jamak terjadi dalam tahap Sengit antara lain:

 Menolak tugas
 Menolak saran perbaikan yang diberikan oleh anggota lain
 Fluktuasi sikap yang tajam terhadap tim dan peluang suksesnya
 Perbantahan diantara anggota tim bahkan saat mereka setuju pada isu-isu nyata
 Defensif, kompetisi dan berpihak
 Mempertanyakan kebijaksanaan orang yang memilih tugas dan menunjuk anggota lain untuk mengerjakannya.
 Menetapkan target yang tidak relistis
 Tidak menyatu, menimbulkan ketegangan dan irihati.

Tekanan-tekanan diatas menyebabkan anggota tim hanya memiliki sedikit energi untuk dipakai bekerja memajukan tim. Namun begitu, mereka menjadi mulai mengerti dan memahami satu sama lain.

Friksi bukanlah hal yang (selalu) berarti negatif atau kemunduran, tetapi sering merupakan suatu indikasi bahwa para angota tim memiliki komitmen yang tinggi terhadap pencapaian tujuan. Dalam masyarakat kita friksi tidak selalu muncul dipermukaan secara nyata dan frontal karena karakter manusia Indonesia yang pada umumnya menghindari konflik (conflict avoider), terutama kaum pria. Dalam hal ini tidak tampaknya konflik bukan berarti tiadanya komitmen. Namun ketidak-terbukaan friksi dapat menghambat proses menuju tim yang kompak.

Untuk dapat membangun tim yang berkelanjutan jalan hidupnya, diperlukan kepiawaian dalam mengelola konflik, dan memanfaatkannya untuk memacu maupun memicu semangat anggota. Konflik yang dikelola secara baik akan menjadi konflik yang sehat, yang bermanfaat dalam membawa cara berpikir baru, menghadirkan inovasi baru dan pertumbuhan, serta memberikan lebih banyak opsi maupun alternatif.

Beberapa tips sebagai pegangan saat menangani perbedaan pendapat para anggota tim dalam tahap storming ini antara lain :

• Pisahkan antara orangnya dengan masalah
• Fokus pada maksudnya (interest), bukan pada posisi orang
• Kembangkan opsi-opsi solusi

Perlu juga diperhatikan beberapa jebakan yang dapat menghambat dalam mengembangkan opsi-opsi solusi, berikut ini :

• Menilai dan menolak secara prematur usulan orang lain
• Mencari satu jawaban terbaik saja
• Membatasi skope dan visi pada bidang tertentu saja
• Hanya memperhatikan interest sendiri

Kegagalan mengatasi storming akan berakibat fatal bagi kemajuan tim. Namun demikian, bila anggota tim telah menjiwai dan terampil menggunakan 3 nilai dasar sebagaimana dijelaskan pada artikel terdahulu, maka storming menjadi mudah dilalui berkat nilai integritas, kedewasaan, serta mental berkelimpah-ruahan yang telah menjiwai para anggota tim.
Kini tim anda siap melangkah menikmati fase kedua dalam perkembangan kehidupan tim menuju tim berkinerja hebat.

Tahap Sandiwara

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #025
Tahap pertama yaitu Pembentukan (Forming) ditengarai dengan masih banyak anggota team yang bersandiwara menggunakan topeng, sebagai penutup sifat asli mereka. Ini jamak karena mereka baru saling memperkenalkan diri. Basa basi biasanya berkisar pada pertanyaan standar tentang keberadaan mereka di team, mengapa mereka dipilih atau secara sukarela bergabung, serta apa yang mereka inginkan dapat mereka lalukan dan mereka harapkan dari keberhasilan di dalam team.

Karena belum mengenal dekat satu dengan yang lain, anggota team masih menjaga jarak. Para anggota secara hati-hati mempelajari batasan-batasan perilaku yang dapat diterima oleh kelompoknya.

Dari sisi pandang positif, mereka tidak ingin berkata, bersikap dan bertindak ceroboh yang dapat menyinggung perasaan anggota lainnya. Dari sisi pandang negatif, ada sementara anggota yang takut citra diri dan gengsi mereka jatuh bila harus memulai lebih dahulu menjalin keakraban, atau bahkan menjadi rendah atau merasa turun derajatnya bila ikut akrab dalam komunitas yang mereka anggap berderajat lebih rendah daripada dirinya. Mereka memasang jarak yang cukup jauh, atau jaim alias menjaga image. Keramahan maupun sopan santun yang ditampilkan terasa basa basi, tidak tulus, sekadarnya dan canggung.

Pertanda lainnya terlihat dari adanya kelompok-kelompok kecil di dalam team yang selalu bersama-sama kapan dan dimanapun. Kelompok di dalam kelompok ini sering menjadi penyebab eksklusivisme di dalam team. Dalam kasus tertentu kelompok kecil ini dapat menjadi embrio terbentuknya kelompok yang lebih besar dan menjelma menjadi team jika mereka berinisiatif mengajak dan memulai merangkul anggota atau kelompok kecil lainnya.
Pada tahap ini penyelesaian tugas-tugas biasanya berkat inisiatif orang-orang tertentu, umumnya yang ditunjuk sebagai ketua team atau orang-orang yang cukup vokal. Keputusan biasanya diamini saja meski annggota tidak yakin atau sependapat. Bila ditanya tentang kepasifannya, sering terlontar jawaban-jawaban bernada mencari aman, semisal : ”yah, saya ikuti saja dulu, dari pada menghambat”, atau “Wong sudah ada yang kasih usulan, ntar malah rame”, dan sebagainya.

Tahap ini merupakan masa transisi dari status individu menjadi anggota kelompok, dan juga sebagai tahap menguji kemampuan pemimpin kelompok dalam memandu baik secara formal maupun informal.

Secara umum dalam tahap Sandiwara ini berkecamuk berbagai perasaan dan perilaku antara lain:

 Gembira, antisipasi dan optimisme
 Bangga dipilih sebagai anggota team
 Terikat sementara pada team
 Curiga dan cemas terhadap tugas
 Mencoba mendefinisikan tugas dan cara menyelesaikannya
 Memastikan perilaku kelompok yang dapat diterima
 Memutuskan informasi apa yang perlu dikumpulkan
 Diskusi tanpa konsep yang jelas, dan membuat beberapa anggota tidak sabar.

Mengingat begitu banyak hal yang menyita perhatian anggota, sangatlah wajar bila dalam tahap ini belum banyak, bilapun ada, penyelesaian tugas dan hasil kerja yang dapat dicapai oleh team.
Untuk mempercepat pembauran dan keakraban diantara anggota team, sang ibu, pemrakarsa team harus memfasilitasi dan merekayasa beberapa hal, antara lain:

1. Memaknai kembali tujuan dan manfaat yang akan diraih
2. Melakukan ice breaking untuk menghilangkan kekakuan
3. Menciptakan atribut-atribut kebersamaan team
4. Mengekspose kelebihan team dibanding pesaing
5. Meminta, bukan menyuruh, tolong anggota team tertentu (biasanya yang jaim, atau minder) melakukan suatu tugas untuk team.
6. Menciptakan kegiatan-kegiatan tertentu yang mau tidak mau memerlukan kedekatan fisik atau psikologis.

Tahap Sandiwara dapat dikatakan terlalui dengan baik apabila sudah mulai muncul keterbukaan komunikasi diantara anggota team. Rasa ragu, sungkan maupun takut salah mulai menghilang. Banyak kelakar serta canda mengiringi pembicaraan mereka. Bahkan olok-olokpun mulai berani dilakukan. Tim mulai dapat membahas berbagai persoalan atau tugas dengan keterlibatan yang cukup banyak dari para anggota.

3 Fase dalam Kehidupan Team

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #024
Laiknya sebuah kehidupan, SOBAT - Semua orang Bisa Hebat, memnganalisis team sejak ia dilahirkan, pertumbuhannya, kematangannya hingga masa surutnya.

Sebuah team yang kuat dimulai sejak ia dilahirkan. Ibarat kehidupan, kelahiran sebuah team memerlukan tekad dan komitmen yang kuat dari sang Ibu. Sang ibu harus menyadari rasa sakit dan derita yang akan ditanggungnya untuk melahirkan sebuah bayi Team. Bahkan sejak dari masa kandungannya dan juga pasca melahirkan, dimana sang bayi masih sangat rentan terhadap segala predator dan penyakit yang akan menyerangnya.

Keinginan untuk membentuk sebuah team sering dihadang oleh berbagai kepentingan, individu maupun kelompok. Pemrakarsa pembentukan team, sang ibu, harus mampu meyakinkan para pihak bukan saja, meski yang terutama, kepada mereka-mereka yang akan terlibat sebagai anggota team tentang makna dan manfaat tujuan dibentuknya team (sense of purpose), tetapi juga kepada para stake-holder yang lain. Selain atasan yang mutlak harus diyakinkan, para tetangga departemen, rekan kerja dan yang lain akan menjadi ganjalan serius andaikata tidak dirangkul dengan sebaik-baiknya. Ingat, Hidden Agenda adalah hal yang sangat sering terjadi di dunia kerja yang masih menganut paradigma era industrial.

Karena itu SOBAT membaginya ke dalam tiga gelombang besar, disebut Fase, yang sangat menentukan arah kehidupan dari team yang akan dilahirkan dan menjalani kehidupannya.

Sejak dilahirkan, team akan menjalani proses hidupnya melalui 3 Fase Kehidupan yang terdiri atas 6 tahap perkembangan.


Fase Pertama adalah masa Perjuangan.
Masa ini ditandai dengan pergulatan keras dan menentukan berlanjut atau tidaknya kehidupan team. Seperti halnya seorang bayi, masa perjuangan adalah masa-masa kritis. Kondisinya yang masih lemah sangat rentan terhadap gangguan, penyakit maupun predator. Fase pertama ini terdiri atas dua tahap perkembangan yaitu Tahap Pembentukan (Forming) dan Tahap Badai (Storming).

Fase kedua adalah masa Pertumbuhan.
Setelah lolos dari perjuangan yang berat, kini team mulai menikmati perkembangannya. Ia akan semakin tumbuh dan mulai berprestasi. Kinerjanya akan semakin baik dan mantap dari waktu ke waktu. Fase ini ditandai dengan dua Tahap Perkembangan yaitu Tahap terbentuknya keberaturan (Norming) dan Tahap berprestasi (Performing).

Fase ketiga adalah masa Matang.
Keberhasilan yang meningkat dan konsisten akan membawa team pada posisi puncak kehidupannya. Team akan menjadi mapan dan mantap. Segala tugas akan diselesaikan pola sebagaimana biasanya, karena terbukti selalu sukses. Setelah mencapai puncak tentu hanya ada satu jalan yakni menurun. Karena itu fase ini meliputi dua tahap juga yaitu Tahap Setuju-Saja (Conforming) serta Tahap Pelayuan (Decaying).

Keenam tahap perkembangan yang terdapat dalam 3 fase kehidupan team tersebut diatas dalam SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - diperkenalkan sebagai 6 S yakni Sandiwara, Sengit, Selaras, Solid, Sentausa dan Surut. Ikuti ulasan setiap tahap itu pada artikel-artikel berikutnya.

6 Tahap Kehidupan Team

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #023
Masih ingat para manager kita itu..?

Persaingan yang kuat untuk membuktikan team masing-masing sebagai yang paling solid dan berkinerja tinggi ternyata menghadapi kenyataan yang tak seindah kata-kata. Kerjasama atau gotong royong yang kita percayai telah merupakan budaya dan telah mendarah daging dalam jiwa anak negeri ini (ini kata pelajaran PPKn di SD) menemui kenyataan yang lain di lapangan.

Siang itu, banyak anggota Team Biru tampak lesu saat berjalan menuju ruang makan. Ketiga kelompok yang saling bersaing itu baru saja menyelesaikan tiga tugas lapangan (outdoor assignments) yang berbeda tingkat kesulitan dan kompleksitasnya. Pada penugasan pertama yang relatif sederhana, dengan modal semangat dan optimisme tinggi, Team Biru tampil dengan meyakinkan dan tampaknya mereka akan mampu mengungguli kedua lawannya. Ternyata mereka memang membuktikannya.

Namun dengan tingkat kesulitan dan kompleksitas yang meningkat sesuatu telah terjadi disana dan membalikkan keadaan. Terjadi ketegangan diantara anggota, mereka saling silang pendapat dan berdebat dengan sengitnya sehingga keputusan sulit disepakati. Pada dua penugasan terakhir mereka bahkan tidak dapat menyelesaikan tugas karena tidak memiliki effective working produres sebagai akibat dari keputusan yang dibuat asal-asalan berhubung telah melampaui batas waktu yang dijatahkan untuk perencanaan dan pengaturan strategi.

“Wah kacau deh! Masa ngomong aja nggak boleh?” keluh Rambe.
“Lho, kok gitu?”, Tanya Parno dari team Kuning
“Abis semuanya pada ribut sih, nggak ada yang mau ngalah!” sela Yanto yang satu team dengan Rambe, team Biru.
“Iya, gue dibentak ‘nggak usah ngomong lagi!’ sama tuh team leader. Mentang-mentang….!” , sungut Rambe.
“Apa yang terjadi To? Team kalian kan udah kompak tadinya,” selidik Parno.
“Nggak tau deh. Sekarang malah kacau. Kayaknya mundur ke awal lagi.”
“Bener lu To! Kayaknya kita back to square one!” gerutu Rambe.

Benarkah Team Biru kembali ke awal lagi? Mengapa mereka yang sudah kompak tadinya menjadi berantakan layaknya team yang baru dibentuk? Pertanyaan itu menjadi jelas ketika selepas istirahat makan siang para instruktur mengajak peserta ke dalam kelas untuk mengevaluasi perjalanan team selama ini.

Ternyata…
Sebuah team yang solid dan berkinerja tinggi tidak terjadi begitu saja, secara mendadak, secara instan. Team adalah sebuah bentuk kehidupan, karena terbentuk dari kumpulan makhluk hidup yang disebut manusia. Sebagai sebuah kehidupan, team memiliki pula dinamika dan daur hidup. Ia dilahirkan, dibesarkan, tumbuh, berkembang dan dapat pula mati. Sebagai sebuah kehidupan iapun tunduk pada hukum alam.

Alam telah mengajarkan kita tentang perjalanan kehidupan sejak proses kelahiran sesosok makhluk hidup yang begitu menyakitkan dan beresiko nyawa, lalu belajar merangkak dan tertatih, berjalan, jatuh bangun dengan ketergantungan yang mutlak pada orang lain. Kemudian ia menjadi insan yang mandiri, yang mampu mengurusi diri sendiri, yang merasa memiliki dunia. Selanjutnya ia akan berkembang, berkemampuan dan berprestasi, lalu memiliki keyakinan mampu menaklukkan dunia dibawah telunjuknya. Waktu berjalan terus dan ia menjadi mapan, status quo, tidak berkembang lagi sehingga mulai menyadari pentingnya kehadiran serta uluran tangan orang lain; kini kondisinya mulai menurun, lemah, dan menunggu ajal….!

Bagaimana Kurva Kehidupan atau kurva S itu diterjemahkan ke dalam tahapan Team Berkinerja Tinggi? SOBAT merumuskannya dalam formula 6 S yakni Sandiwara, Sengit, Selaras, Solid, Sentausa dan Surut. Adapun tahap ke 6 yakni Surut atau Mati akan dihindari melalui hukum alam yang lain yakni Transformasi. Ikuti bahasan ini dalam artikel selanjutnya.

Belajar dari Angsa

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #022

Kita telah mengetahui bahwa ada sejenis angsa yang mampu terbang ribuan kilometer melintasi samudera luas ketika mereka harus beremigrasi ke belahan bumi yang lain (utara ke selatan dan sebaliknya) akibat pergantian musim. Bagaimana hal itu dapat mereka lakukan padahal bila seekor angsa mencobanya sendiri ia tidak akan mampu melakukannya? Ia akan kelelahan dan terjatuh di tengah laut.
Belajar Dari Angsa

“Pelajaran Dari Angsa” disampaikan pertama kali oleh Angeles Arrien pada ‘The1991 Organizational Development Network’ berdasarkan hasil penelitian Milton Olson, menghadirkan fakta-fakta sebagai berikut :




 Fakta 1:
Ketika semua angsa mengepakkan sayap-sayap mereka, akan terjadi daya dorong keatas (uplift) oleh udara. Dengan terbang membentuk formasi “V”, kawanan angsa itu dapat memperbesar jelajah terbang mereka hingga 71 % lebih jauh dibandingkan apabila seekor angsa terbang sendiri.

 Fakta 2 :
Bila seekor angsa keluar dari formasi, ia tiba-tiba merasakan ada gesekan udara (drag) yang besar yang membuatnya terbangnya terasa berat, sehingga ia enggan terbang menyendiri. Ia akan segera kembali ke formasinya, untuk mengambil keuntungan dari daya angkat udara yang dihasilkan oleh burung di depannya.

 Fakta 3 :
Jika angsa yang paling depan lelah, ia akan berputar ke belakang dan masuk ke dalam untuk mengambil keuntungan dari daya angkat udara yang dihasilkan oleh burung di depannya.

 Fakta 4 :
Angsa-angsa itu terbang dalam formasi bersuara nyaring (menerompet) untuk memacu burung di depannya agar tetap menjaga kecepatan mereka.

 Fakta 5 :
Jika seekor angsa menderita sakit, entah terluka atau tertembak jatuh, dua ekor angsa akan keluar dari formasi dan mengikuti untuk menolong dan melindunginya. Mereka akan tinggal bersama si korban hingga ia mati atau dapat terbang lagi. Lalu, mereka akan bergabung dengan formasi kawanan lain atau mengejar kelompoknya.

Setiap fakta diatas secara mengherankan menunjuk pada setiap unsur utama yang harus dimiliki sebuah tim agar dapat terbang jauh melintasi pencapaian yang mampu dibayangkan dapat dijangkau oleh perjuangan tunggal. Hasil luar biasa yang dipertontonkan alam sebagai fenomena yang biasa. Ini adalah sebuah bukti bahwa hasil luar biasa dapat diraih dengan cara biasa, cara yang disediakan alam sehari-hari, secara alamiah.

Kita memang bukan angsa, sehingga tidak secara otomatis disediakan oleh Sang Pencipta naluri kerjasama sebagaimana para angsa itu, tetapi dibekali hak istimewa berupa akal untuk mempelajarinya dan budi untuk menetapkan pilihan terhadap penggunaan pengetahuan dari hasil pembelajaran itu.

Pembelajaran Berkelanjutan

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #021



Bagi team yang menuju hebat, kegagalan bukan berarti akhir melainkan hanya sukses yang tertunda karena ada beberapa kekeliruan yang menuntut perbaikan. Bagi mereka, kegagalan yang sesungguhnya hanya akan terjadi jika mereka menyatakan berhenti, cukup sampai disini saja, atau menyerah. Team mengembangkan tradisi untuk melakukan evaluasi setiap selesai mengerjakan sebuah tugas. Team berpendirian bahwa setiap penugasan, baik sukses apalagi gagal, harus memberikan hasil berupa pembelajaran.

Setiap melakukan evaluasi senantiasa diarahkan kepada ke-7 karakteristik terdahulu dimulai dari sense of purpose hingga effective working procedure. Kekurangan yang ditemui dari ketujuh karakteristik tersebut kemudian diperbaiki dengan mencermati kembali 3 prinsip dasar pondasi team. Dengan begitu usaha perbaikan menjadi lebih fokus dan mendasar. Disamping itu evaluasi tidak menjurus pada pencarian kambing hitam, melainkan pembenahan pelaksanaan kerjasama melalui perbaikan sikap dan perilaku sejak dari perencanaan hingga akhir pelaksanaan kerja.

Bagi team yang lemah dan tidak bervisi, kegagalan sering menghancurkan semangat untuk melakukan evaluasi dan pembelajaran. Mereka menganggap evaluasi akan mengungkit lagi kekecewaan, rasa malu, dan perasaan tidak enak lainnya. Disisi lain bila berhasil, mereka juga enggan melakukan evaluasi karena menganggap tidak ada yang perlu dipelajari lagi dari sana. Toh sudah terbukti berhasil! Anggapan ini tentu sangat keliru.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mencari penyebab kegagalan antara lain :

 Fokus pada perilaku, bukan pada orangnya.
 Sampaikan faktanya, bukan opini
 Jangan memvonis atau menghakimi
 Gunakan kata-kata yang sopan dengan intonasi yang enak didengar.
 Jangan menggunakan kalimat-kalimat sindiran
 Jangan menjatuhkan self esteem orang lain

Pola yang baik dalam mencari akar permasalahan dan solusinya adalah dengan menggunakan diskusi yang melibatkan kontribusi orang lain, digambarkan sebagai berikut :

Diskusi dimulai dengan melakukan pembukaan yang baik dan benar sehingga semua orang tahu diskusi akan dimulai. Kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan fakta sebanyak mungkin, bukan opini. Dengan fakta itu, dikembangkan berbagai alternatif solusi melalui diskusi. Tawarkan beberapa pilihan solusi terbaik dan mintakan kesepakatan dari semua anggota. Bila belum disepakati, kumpulkan informasi lebih banyak lagi dan ulangi proses pencarian solusi. Bila kesepakatan telah didapat, buatlah keputusan dan nyatakan dengan tegas APA yang harus dilakukan oleh SIAPA dan KAPAN harus diselesaikan. Ini penting karena seringkali keputusan dibuat tanpa secara tegas menetapkan Apa, Siapa dan Kapan keputusan itu dilaksanakan. Setelah itu tutuplah diskusi dengan baik dan pasti .

Pembelajaran Melalui Teamwork.
Melengkapi pembelajaran berkelanjutan ini, berikut disajikan sebuah pola pembelajaran berkrelanjutan melalui kerjasama team yang dikembangkan oleh Profesor Reg Revans bagi orang-orang yang tidak mempunyai cukup waktu untuk mengikuti pelatihan di luar waktu kerja, dengan cara memanfaatkan pekerjaan mereka sendiri sebagai basis pembelajaran. Pada dasarnya Reg Revans menggunakan sistem konvensional namun diterapkan secara terbalik. Metoda ini secara detil dapat anda baca pada lampiran 5 buku SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat, Grasindo 2007.

Ilmu Landak

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #020



Team berkinerja hebat juga memiliki karakteristik luwes (fleksibel) atau lentur terhadap berbagai situasi, serta mampu beradaptasi dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Anggota team menyadari bahwa solusi kreatif mereka bisa saja tidak berjalan dengan baik karena situasinya berubah, atau memang solusinya tidak cukup baik sehingga perlu diperbaiki. Bisa juga karena prosedur kerja yang tidak efektif. Dalam situasi demikian peran pengendali kerja penting dalam mengusulkan team berhenti sementara untuk mencari perbaikan solusi atau prosedur kerja.

Sering kali terjadi karena waktu yang dirasakan mendesak atau sumberdaya terbatas, team enggan untuk menghentikan dan merubah pola kerjanya. Kegagalan yang sudah berulang beberapa kali tidak mendorong mereka untuk melihat dan merevisi kesalahan. Yang terjadi kemudian adalah saling menyalahkan. Team seperti ini jelas tidak memiliki fleksibilitas dan adaptabilitas yang cukup. Para anggota team kurang menghayati prinsip-prinsip abundance mentality.

Dilain pihak, team juga tidak boleh terlalu mudah terpengaruh oleh gangguan dan situasi disekitarnya, sehingga dengan mudah pula meninggalkan rencana yang telah dengan susah payah dibuat dan disepakati. Team seperti ini bahkan dengan mudah dipengaruhi dan diprovokasi oleh pihak luar, sehingga terkesan tidak solid, plin-plan dan ragu. Pertanyaannya adalah sejauh mana kita tetap bersikukuh pada suatu hal dan bilamana pula kita harus beradaptasi dan merubah yang telah disepakati bersama?

Jims Collin dalam Good To Great menyarankan menggunakan Ilmu Landak. Landak adalah binatang yang buruk rupa dan tampak lamban namun selalu melangkah dengan mantap ke arah yang ingin ditujunya. Ia mengetahui secara pasti sebuah rahasia kemampuannya dan memiliki keyakinan penuh yang secara konsisten digunakannya. Jika ada yang datang untuk mengganggu atau menghalanginya, ia dengan pasti akan menggulung tubuhnya dan memasang duri-durinya menghadap ke segala arah. Berbeda dengan rubah. Ia binatang yang tampak anggun, bergerak dengan lincah dan indah. Rubah selalu mencoba menerkam landak dan selalu gagal. Bila gagal berhadapan secara langsung, ia akan mencoba menerkamnya dari balik batu atau pepohonan. Ia akan mencobanya dengan berbagai cara berbeda, namun setiap kali landak hanya menggulung diri dan memasang duri-duri mautnya sambil bergumam, “Si Tolol itu lagi, tak jera-jeranya dia”.

Tapi dikala yang tidak menguntungkan landakpun bersedia berbelok dan mencari jalan lain bila jalan yang ditempuhnya tak mungkin dilaluinya. Ambil misal bila ia berhadapan dengan seekor gajah. Landak tentu memilih berbelok dan menghindarinya dari pada harus mati terinjak binatang raksasa itu sekalipun ia juga bisa mencederai si gajah bila menginjaknya. Dia tida memilih "Lose-Lose Solution", saling mencederai aau saling merugikan. (Tentang lose-lose solution silakan lihat lagi di Mentaitas Berlimpah-ruah disini).

Ilmu landak mengajarkan kita bahwa prinsip harus dipegang secara teguh. Dengan prinsip itu kita memiliki keyakinan serta dasar untuk bertindak. Dan anda tentu masih ingat 3 prinsip dasar sebuah team yang berkinerja hebat yakni integritas, mental berkelimpah-ruahan serta maturitas.

Tetapi juga harus bisa fleksibel dan mampu beradaptasi dengan fakta brutal yang terjadi akibat perubahan yang ekstrim.

Prosedur Kerja Yang Efektif

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #019



Karakteristik selanjutnya yang harus dimiliki oleh sebuah tim untuk dapat berkinerja hebat adalah cara kerja yang efektif (effective working procedure). Bilapun tim telah memiliki solusi kreatif atas permasalahan yang dihadapi, namun tidak mampu mempersiapkan cara-cara pelaksanaannya yang efektif, tidak mustahil hasil yang diharapkan tidak akan terwujud. Bahkan seringkali tugas pekerjaan tidak terselesaikan dan orang menjadi frustrasi sehingga akhirnya tim pecah ditengah jalan.

Hal pertama yang harus dilakukan oleh tim yaitu menetapkan tahap-tahap pelaksanaan pekerjaan secara rinci beserta sasaran-sasaran antaranya sebagai milestone. Hindari nafsu untuk menyelesaikan secara terburu-buru (Jawa: grusa-grusu) dengan mengeroyok habis seluruh pekerjaan sekaligus. Ingatlah bahwa tidak semua tugas atau pekerjaan dapat dilakukan secara paralel. Banyak diantaranya memerlukan masukan dari hasil pekerjaan yang lain sebelum dapat digarap dengan baik. Jangan pula dilupakan ada pekerjaan-pekerjaan yang bersifat bottle neck, sehingga tanpa pentahapan yang baik akan terjadi idle (pengangguran) bagi pekerjaan yang lain.

Cara kerja yang efektif menuntut pula adanya pembagian tugas dan peran diantara anggota secara optimal. Ingatlah bahwa inti dari kerjasama adalah kerterlibatan semua pihak. Tanpa pembagian tugas dapat dipastikan akan ada yang menganggur, sementara yang lain bekerja lebih keras. Kedua belah pihak bisa menjadi demotivasi. Dalam pekerjaan yang sesungguhnya, yang tidak mendapat peran akan menarik diri dari kegiatan tim, sementara yang mendapat beban berat akan menggerutu. Bukankah sering kita dengar ungkapan seloroh khas Indonesia, “Little-little to me, salary not up-up”.

Namun perlu diingat pada dasarnya manusia memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Meskipun ada hal yang disukai bersama, ternyata masih lebih banyak hal-hal yang tidak disenangi bersama. Tetapi manusia selalu mencoba menggolongkan segala hal, termasuk dirinya. Demikian pula halnya di dalam tim, terdapat kelompok-kelompok orang dengan sifat dan pembawaan tertentu. Dan tim yang baik akan membagi peran dan tugas diantara para anggotanya sesuai gaya dan pembawaan mereka sehingga hasil kerjanya optimal.

Penggolongan yang paling jamak digunakan adalah membagi manusia dalam empat gaya : Driver (Penggerak), Persuader (Perayu), Analyzer (Analis) dan organizer (Pengatur). Penggolongan ini didasarkan pada dua dimensi yakni Tugas dan Emosi. Tugas dikukur dari dua kutub ekstrim yaitu Proses dan Kemanfaatan (Expedience), sedangkan emosi dilihat dari Kemampuan mengendalikan diri (Controlled) dan tingkat responsif (Responsive) seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain.

Pada gambar diatasi diperlihatkan bahwa seorang Driver menggunakan emosinya secara terkendali dan memandang tugas lebih pada sisi kemanfataannya. Sedangkan seorang Persuader berada di dalam kuadran emosi yang responsif dan melihat tugas lebih pada sisi kemanfaatannya. Adapun orang dengan pembawaan Analis cenderung ada di kuadran emosi yang terkendali namun melihat tugas lebih pada prosesnya. Terakhir orang bergaya Organizer melihat tugas lebih fokus pada proses, disertai dengan menggunakan emosinya secara responsif.

Metoda ini bermanfaat dalam membangun tim dengan menyadari bahwa dalam melihat sesuatu setiap orang bisa berbeda cara pandangnya. Sebagai misal, seseorang yang tampaknya tidak terburu-buru dan cepat menyelesaikan sebuah tugas bukan selalu berarti ia lamban, tetapi mungkin karena ia melihat lebih pada sisi prosesnya dan ingin memastikan dulu bahwa ia telah memahaminya secara benar (analis).

Tim yang efektif memanfaatkan semua tipe yang ada. Tanpa driver tim tidak akan mampu menyelesaikan tugas-tugasnya, tanpa perayu tim akan gagal melibatkan semua anggotanya, tanpa pengatur tim tidak akan padu menyatu, dan tanpa analis tim akan kehilangan langkah-langkah kunci. Keempat gaya itu diperlukan untuk membentuk sebuah komunitas yang lengkap, dan membawa komunitas itu tumbuh menjadi sebuah tim.

Secara rinci karakteristik dari keempat gaya diatas diuraikan di dalam tabel yang terdapat pada buku "Semua Orang Bisa Hebat - SOBAT' lampiran 3.

Dengan menggunakan metoda diatas, sebuah tim dapat juga membagi peran para anggotanya sebagai berikut :
• Pengumpul Informasi
• Perancang Solusi Kreatif
• Pelaksana Utama
• Pengendali Kerja

Para Pengumpul Informasi bertugas mencari dan mengumpulkan sebanyak mungkin data serta informasi yang diperlukan, menyusunnya, menguasai sepenuhnya, menjaga kerahasiaannya dari pesaing, serta ‘mengintip’ informasi dari pesaing. Para Perancang Solusi Kreatif kemudian merencanakan solusi akhir dan tahap-tahap pelaksanaannya berdasarkan informasi yang tersedia. Bila hasil rancangannya telah disepakati, maka para Pelaksana Utama lalu memimpin dan mengorganisasikan kerja yang melibatkan semua anggota.

Agar pekerjaan dapat berjalan mulus, para Pengendali Kerja melakukan pengawasan melekat dan cerewet mengingatkan sebelum terjadi kesalahan terutama untuk hal-hal yang detil. Ingat pepatah the devil lies on details. Ini diperlukan karena setiap orang pada saat itu tersibukkan pada tugas mereka sehingga tidak waspada pada berbagai jebakan yang mengintai setiap saat. Mereka juga bertugas mengamati kelemahan prosedur kerja dan memberi usulan untuk perbaikan. Selain itu, mereka sebaiknya memiliki juga wewenang untuk menghentikan kerja bila dianggap tidak efektif.

Mengacu kepada Margerison-McCann Team Management Wheel, pembagian peran dapat dibuat lebih rinci apabila jumlah anggota tim cukup banyak. Margerison-McCann membagi menjadi 8 peran sesuai warna pelangi yang berinduk pada 4 fungsi utama yakni Advisers, Explorers, Organizers dan Controllers. Kedelapan peran itu adalah :
1. Reporter-Adviser : Orang-orang yang suka mencari, mengumpulkan, memelihara dan menyampaikan informasi.
2. Creator-Innovator : Orang yang suka memberikan ide-ide dan cara-cara baru untuk menyelesaikan tugas-tugas.
3. Explorer-Promoter : Orang yang senang mencari kemungkinan serta peluang - peluang baru.
4. Assessor-Developer : Orang yang suka menganalisa alternatif dan mengembangkan ide-ide untuk mengatasi hambatan saat praktek di lapangan.
5. Thruster-Organizer : Orang yang senang bertindak secara nyata dan memperoleh hasil.
6. Concluder-Producer : Orang yang gemar bekerja sistematis dalam mendapatkan output.
7. Controller-Inspector : Orang yang gemar mengamati detil tugas dan mengendalikan atau mengawasi proses kerja.
8. Upholder-Maintainer : Mereka yang gemar menjaga standar-standar dan nilai-nilai, serta kesempurnaan tim.

Warna-warni diatas selain untuk membedakan juga mengandung makna tertentu yang bersesuaian agar memudahkan dalam memahami maupun mengingatnya, sebagai berikut:

Hijau Segar. Hijau adalah warna tanaman yang baru tumbuh. Awal suatu kehidupan dimulai dengan proses pembelajaran dan pengumpulan informasi. Hijau dipilih untuk menggambarkan bagian roda yang berhubungan dengan ide-ide baru dan informasi.

Kuning Cerah. Kuningnya matahari memberikan kehidupan dan gizi kehidupan. Kita tentu merasa lebih baik di hari yang cerah penuh sinar matahari. Oleh karena itu kuning dipilih untuk melambangkan hal-hal yang menjanjikan bagi kerjasama tim

Merah Menyala. Merah melambangkan tindakan atau aksi, serta kehangatan dan gejolak perasaan. Bagian roda yang mengandung warna merah adalah area dimana aksi dilakukan dan kehangatan diperoleh.

Biru Laut. Setelah beraktivitas, tibalah saatnya untuk pendinginan (cooling down). Biru melambangkan hati yang sejuk, serta pikiran yang jernih untuk mengendalikan dan melihat detil kegiatan. Bagian ini merupakan periode refleksi dan pengecekan hasil kerja.

Pembagian peran ini ini sangat membantu dalam memungkinkan keterlibatan semua anggota karena minat, bakat maupun kemampuan yang berbeda-beda. Disamping itu mereka menjadi lebih fokus pada tugas dan bidang masing, tidak saling menunggu tanpa mengetahui siapa mengerjakan apa. Sekali lagi, ini tidak berarti anggota lain tidak boleh membantu mereka sama sekali, tetapi lebih kepada kepastian ada yang memegang pekerjaan itu, dan pemegang peran tidak diperbolehkan memperlakukannya sebagai hak prerogatifnya sehingga menimbulkan sekat-sekat pemisah diantara anggota tim.

Berdiri Diatas Kebhinekaan

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #018



Hakikat terciptanya sinergi adalah memanfaatkan perbedaan.
Keanekaragaman kemampuan para anggota tim merupakan asset yang berharga manakala dikelola demi memperoleh sinergi. Modal keterbukaan komunikasi yang telah dimiliki akan memunculkan beragam ide dan pemikiran berbeda, yang kemudian dengan rasa saling menghargai dan saling percaya, ide-ide berbeda itu dapat diramu dan dipertajam melalui kepemimpinan bersama untuk menghasilkan solusi bersama, solusi milik tim.

Di dalam membentuk sinergi, mutlak harus ada perbedaan. Pepatah Inggris mengatakan “If two always agree, only one is needed”. Jika dua orang selalu setuju, hanya satu sang diperlukan. Jadi jika ada lebih dari satu orang yang berserikat dalam niat bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama yang jauh lebih besar, maka perbedaan menjadi wajib hukumnya. Perbedaan dalam persoalan ini bukan dalam arti asal tidak sama, melainkan ide-ide beragam yang diperoleh dari cara memandang dengan persepsi yang berbeda terhadap suatu persoalan yang didasari oleh kesamaan niat, harapan serta tujuan (sense of purpose). Meminjam ungkapan yang dilontarkan Amien Rais: ’kesamaan platform’ atau dasar berpijak. Kekayaan sudut pandang atau persepsi memungkinkan timbulnya lebih banyak alternatif pilihan, lebih banyak pegembangan solusi, serta memungkinkan ditemukan cara-cara baru yang benar-benar baru alias genuine.

Keberagaman persepsi akan muncul apabila kita mau dan berani memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, yang tidak sebagaimana biasa kita lakukan. Keberanian mencoba melihat dari sudut pandang yang lain menuntut usaha yang tidak mudah untuk keluar dari belenggu kebiasaan, kemapanan, maupun paradigma yang dianut selama ini. Disisi lain, adalah lebih sulit lagi untuk menerima secara ikhlas sudut pandang berbeda yang disodorkan oleh orang lain. Namun, hal itu akan menjadi lebih mudah bila anggota tim memiliki pondasi nilai atau sikap mental berkelimpah-ruahan (abundance mentality) sebagaimana dijelaskan pada artikel terdahulu, lihat disini.

Ilustrasi pemanfaatan keanekaragaman yang mampu menghasilkan solusi kelompok digambarkan jelas dari fenomena alam dibawah ini. Sinar matahari yang terdiri dari berkas-berkas cahaya pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu didispersikan oleh prisma menghasilkan cahaya bening.

Hasil dispersi itu tidak dapat diklaim sebagai berasal dari salah satu berkas sinar tertentu. Warna bening itu menjadi milik bersama. Demikian pula halnya tim yang dibangun diatas perbedaan, solusi akhir bukanlah milik dari si A atau si B.

Dengan demikian konsep sinergi adalah :
SOLUSI SAYA + SOLUSI ANDA = SOLUSI KITA
A + B = ( A + B ) X KS
dimana KS > 1
KS : Koefisien Sinergi

Besaran Koefisien Sinergi tergantung pada tingkat kreatifitas dan kerjasama diantara anggota tim dalam mewujudkan hasil akhir, dalam rumus diatas antara SAYA dan ANDA. Jadi, besaran KS merupakan fungsi dari kreativitas dan kerjasama tim, digambarkan sebagai :

KS = F ( KREATIFITAS, KERJASAMA )

Unsur kreativitas dan kerjasama tim terutama kekompakannya dalam mewujudkan hasil kerja, sangat menentukan besarnya nilai tambah pada hasil akhir (Solusi Kita). Dan besarnya nilai tambah menjadi ukuran keberhasilan kerja sebuah tim, serta menjadi salah satu rangsangan utama terwujudnya motivasi kerja anggota tim. Nilai tambah dapat dihitung dengan melihat selisih antara hasil akhir dengan modal awal. Dalam hal ini :

NILAI TAMBAH = ( A + B ) X KS - ( A + B )

Mari kita kembali ke tiga orang keluarga miskin yang urung memperoleh dana BLT kompensasi BBM (Exhibit 1) di Bab Satu buku ini. Dengan modal seharga Rp. 180. 000,- mereka mampu mewujudkan hasil akhir senilai Rp. 450.000,-.
Koefisien Sinergi mereka = 450.000 / 180.000 = 2,5 kali
dan
Nilai Tambah yang mereka ciptakan =
Rp. 450.000 - Rp. 180. 000 = Rp. 270. 000,-

Contoh kecil ini memperlihatkan secara jelas dan gamblang konsep sinergi yang memberikan hasil akhir multiplikatif (berlipat ganda) tidak sekadar peningkatan incremental atau prosentase. Dan ini tercipta karena ada lebih dari satu unsur berbeda yang diramu dengan kreativitas. Disini perbedaan bukanlah sekadar boleh, melainkan harus ada.

Memimpin Bersama

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #017



Kepemimpinan bersama atau shared leadership merupakan konsekwensi logis (yang harus ditempuh) dari iklim keterbukaan (komunikasi dan hati) serta rasa saling menghargai dan percaya satu sama lain. Disamping itu tujuannya jelas deni membangun suasana yang mampu memberikan peluang setiap in dividu memberikan kontribusi ide ang beragam. keberagaman itulah yang aan menumbuhkan solusi ketiga yakni solusi bersama, yang bukan solusi dari pemilik ide orang per orang. Jangan lupa, solusi ketiga adalah solusi yang bersifat sinergis yangmamp memberikan hasil hebat, karena dibentuk oleh banyak kepala.

Karena itu SOBAT menerompetkan slogan "If two always agree, onlyone is needed!". Jika anggota lain hanya bisa setuju saja, maka dia tidak diperlukan di dalam team.

Kepemimpinan bersama dicirikan terutama dalam bentuk pengambilan keputusan atau decision making berdasarkan kemufakatan bersama. Tidak ada hak veto dari orang-per-orang untuk memaksakan keputusannya, sebagaimana jamak terjadi di dalam organisasi formal struktural yang hirarkis. Setiap individu memiliki satu hak suara, tidak terkecuali bagi Team Leader.

Kesimpulannya:
Yang menjadi pusat, yang menjadi boss, dan yang membuat semua anggota team tunduk padanya adala "KEPUTUSAN" atau decision. Keputusan yang bersifat sinergis dan 'owned' oleh seluruh angota team akan menanamkan komitmen yang kuat untuk memperjuangkannya hingga berhasil.

Sang leader (yang ditunjuk berdasarkan kesepakatan) menempatkan dirinya sebagai bagian dari anggota team. Sang leader tidak berfungsi sebagai pemberi perintah, melainkan lebih sebagai fasilitator, akomodator dan komunikator di dalam team atau dengan pihak luar.













Segala aktivitas dalam PDCA sejak perencanaan (Planing), tindakan (Do), monitoring, analisa dan evaluasi (Check) serta langkah-langkah perbaikan (Action) diputuskan dan dilakukan bersama. Tentu, demi efisiensi dan efektivitas kerja diadakan pembagian tugas diantara anggota tim, namun secara esensial setiap individu diundang untuk memberikan kontribusinya.

Pembagian tugas tidak lantas menimbulkan sekat-sekat dan tembok pemisah yang rigid dan kaku sebagaimana di dalam organisasi struktural hirarkis.

Rasa Hormat dan Percaya

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #016
Harus senantiasa disadari bahwa sebuah tim selalu terdiri dari sejumlah anggota dengan kemampuan masing-masing yang beragam. Harus pula dihayati bahwa keragaman kemampuan dan kompetensi yang dimiliki setiap anggota merupakan asset dan kekayaan dari tim yang bersangkutan. Ini dapat terjadi apabila setiap orang menyadari bahwa tugas-tugas yang akan dikerjakan bersama tidak bertitik berat pada kemampuan tertentu saja, entah fisikal atau intelektualitas. Adalah keliru apabila sebuah tim SAR (Search and Rescue) hanya mengandalkan kemampuan fisik semata ataupun tim Bridge hanya mengandalkan kemampuan otak (kiri) saja. Keduanya sangat diperlukan sesuai dengan proporsi kegunanaanya.

Tim sering digambarkan sebagai sesosok tubuh yang terdiri dari beraneka ragam anggota, mulai dari yang dianggap vital seperti jantung, otak atau paru-paru, hingga yang dinilai kurang vital seperti jempol kaki atau yang dipandang ‘jorok’ yaitu (maaf) anus. Faktanya semua organ itu penting dan menentukan keberhasilan tubuh melakukan aktivitasnya. Anda tentu tidak dapat bekerja tenang bila perut mulas tetapi tidak bisa buang air besar karena lubang pembuangan anda itu sedang terkena radang berat infeksi atau ada bisul matang persis diujung lubang. Atau anda tidak dapat beraktivitas optimal bila ujung jempol kaki menderita abses karena ‘canthengan’ tergerus ujung kuku.

Keutuhan dan soliditas sebuah tim juga jamak dilambangkan dengan susunan jigsaw puzzle yang saling berkait erat melalui interlocking (saling mengunci) antara kepala puzzle yang satu dengan leher puzzle lain yang menyempit. Ketiadaan satu keping puzzle saja akan mengurangi keutuhannya, bahkan dapat menghilangkan pesan dari citra yang ingin disampaikan.


Kesadaran pentingnya peran setiap angota akan menumbuhkan rasa menghargai (respek) serta rasa saling membutuhkan. Tidak ada ego yang merasa diperlukan lebih dari yang lain. Dan rasa menghargai menuntun pada sikap dan tutur kata yang santun serta kesediaan mendengarkan. Sikap saling menghargai tersebut akan memperkuat suasana keterbukaan komunikasi yang telah tercipta sebelumnya.

Perlu disadari bahwa kekuatan sebuah tim bukan terletak pada anggota yang memiliki kemampuan paling tinggi, melainkan pada anggota yang paling lemah. Perhatikanlah sebuah rantai besi. Jika ditarik dengan kekuatan tertentu hingga putus, maka dibagian terlemah dari rantai itulah yang terputus dan kita mengatakan bahwa kekuatan rantai itu adalah sebesar kekuatan yang memutuskan itu.

Harus diingat bahwa esensi tim adalah mendaya-gunakan seluruh potensi yang dimiliki oleh setiap anggota. Maka setiap individu hendaknya mengambil peran dalam tugas bersama itu. Dengan begitu, rasa hormat yang telah tumbuh hendaknya dilanjutkan dengan memberikan kepercayaan penuh kepada setiap anggota yang akan melaksanakan tugasnya sesuai peran dan porsinya setelah disepakati bersama. Jangan terlalu menguatirkan anggota yang dianggap lemah pada bidang itu dan tabu hukumnya untuk mengambil alih pekerjaan yang sedang dilakukan karena andapun harus melakukan porsi anda. Pengambil-alihan tugas akan mendemotivasi yang bersangkutan untuk selanjutnya. Yang perlu dilakukan adalah berbagi pengetahuan dan keterampilan kepada yang lemah dan memberikan semangat serta dorongan bahwa dia mampu.

Ketika sebuah tim harus melewati titian batang pohon kelapa yang melintang rendah diatas sebuah kolam dan diseberang sana harus menyelesaikan suatu tugas, tim bersepakat para anggota pria akan melaluinya terlebih dahulu dan berharap dapat menyelesaikan tugas di seberang sementara menanti para anggota wanita, yang biasanya tidak terampil atau takut meniti diatas balok, tiba di tujuan. Begitu tiba di seberang, para pria perkasa itu segera sibuk terlibat pada tugas berikutnya tanpa peduli terhadap para wanita yang terseok-seok dan terengah-engah mengangkat lalu menggeser tubuh mereka kedepan dalam gaya menunggang kuda batang kelapa sambil bergelut dengan rasa takut. Alhasil, ternyata para pria itu gagal menyelesaikan tugas barunya itu dan hanya berhasil ketika para wanita itu berhasil menyeberang dan memberikan ide-ide penyelesaiannya.

Kasus ini menunjukkan adanya rasa tidak percaya pada kemampuan anggota lain (para wanita) dapat menyeberang dengan baik dan berkontribusi pada tim di tugas berikutnya. Selain tidak percaya, para pria itu jelas telah mencederai nilai integritas yang semestinya mereka pegang teguh.

KOMUNIKASI TERBUKA

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #015


Komunikasi terbuka atau open communication, adalah karakteristik kedua dalam pilar SOBAT yang mesti dimiliki oleh sebuah tim berkinerja hebat. Di dalam keterbukaan komunikasi itu, para anggota tim merasa nyaman dan leluasa untuk berbicara antara satu dengan yang lainnya. Mereka bahkan terpanggil untuk ikut memberikan komentar atau mengemukakan pendapat karena iklim yang tercipta merangsang mereka untuk ‘nimbrung’. Setiap anggota tidak merasa terikat oleh hambatan-hambatan psikologis berupa keraguan-raguan, takut salah atau dikira bodoh. Mereka merasa tidak perlu menjaga jarak atau jaim alias jaga image.




Suasana akrab demikian biasanya terjadi setelah satu dua orang berinisiatif memulai mengajak dialog, diskusi atau melontarkan canda (joke) diiringi perangai dan sikap yang terbuka, ramah, riang dan bersahabat. Apalagi jika disambut oleh orang atau orang-orang yang dipandang (belum tentu) berkedudukan lebih diantara mereka. Para anggota tim biasanya segera melepaskan jarak dan keraguan mereka setelah melihat orang yang dihormati atau diseganinya membuka diri, ramah, bersahabat dan tidak memandang rendah kepada mereka. Suasana akrab yang demikian ini juga didorong oleh pemahaman yang baik atas tujuan tim atau telah tercipta sense of purpose.

Komunikasi yang terbuka bukan hanya terlihat dari semangat besar anggota tim dalam berbicara tetapi juga diikuti dengan antusiasme yang sama besar untuk mendengarkan. Orang tidak cuma berbebut bicara tetapi juga berebut mendengarkan, menyimak pendapat rekan. Rasa ingin tahu yang besar terlihat nyata saat seseorang menyampaikan pendapatnya. Suasana demikian tercipta karena telah tumbuh pula rasa saling menghargai (respect) diantara mereka.

Dengan ini modal kedua telah dimiliki oleh tim.

Pertanyaannya, bagaimana suasana demikian dapat tercipta? Bukankah hal demikian akan memakan waktu lama untuk sampai sepeti itu? Jawabannya, benar demikian! Karena itu SOBAT menyusun skenario dan langkah-langkah praktis agar suasana komunikasi yang terbuka itu dapat tercipta dalam waktu yang relatif singkat. Sekenario dan langkah praktis serta sederhana itu memang harus didesain karena urusan komunikasi bukanlah perkara mudah.Salah satu kendalanya adalah karena orang hanya ingin mendengar apa yang ingin didengarnya! Orang cenderung tidak ingin mendengar pendapat yang berbeda dari dirinya, mereka tidak ingin mendengar apa yang tidak ingin didengarnya dan pendapat yang berbeda adala hal yang termasuk itu.

Dalam SOBAT ditunjukkan mukjizat yang terjadi manakala seseorang berani mendengarkan dan melihat hal yang berbeda, yang pada awalnya tidak ingin didengarnya. Mukjizat itulah yang akan membuat peserta sadar betapa pentingnya perbedaan jika berani mendengarkan dan menerimanya untuk kemudian dikelola demi menghasilkan solusi ketiga.

Sadar Tujuan

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #014




Sadar akan tujuan adalah pilar pertama yang tak boleh dilewati. Anda tidak akan dapat berkontribusi banyak andai tidak memahami benar keterampilan ini.

Sadar akan tujuan atau sense of purpose merupakan syarat pertama yang mutlak harus dimiliki oleh sebuah tim berkinerja hebat. Semua anggota tim harus memahami secara pasti tujuan tim maupun tujuan dari setiap tugas. Sense of purpose berkaitan erat, bahkan sangat erat dengan visi. Mereka bukan hanya paham, tetapi lebih dari itu menghayati betul mengapa harus bergabung dalam suatu kelompok karena mengetahui dan menghayati visi yang akan dituju. Mereka tahu tidak akan berhasil bila tidak bekerja secara kelompok, atau hasilnya tidak akan maksimal. Setiap individu merasa saling bergantung satu dengan yang lain.

Pemahaman yang pasti terhadap visi atau tujuan akan memupus keraguan dalam mengambil keputusan dan dalam bertindak. Disisi lain, visi yang baik dan dipahami dengan benar akan menumbuhkan komitmen para anggota tim. Komitmen, sebagaimana dijelaskan pada artikel tedahulu "Integritas", merupakan modal utama dalam mencapai tujuan.

Visi yang baik, yang menumbuhkan komitmen, mengandung minimal satu dari dua hal berikut:
  1. Bermakna
  2. Bermanfaat.

Visi yang bermakna, adalah visi yang mempunyai arti tersendiri bagi tim dan anggotanya. Visi itu memiliki bobot, khasanah ataupun ikatan yang kuat bagi kepuasan batin seseorang bila ia berhasil menggapainya. Makna yang dalam, yang bisa juga menyangkut keyakinan dan nilai moral tertentu, mampu membuat seseorang terpanggil untuk berkomitmen secara mutlak. Contoh sederhana ditunjukkan oleh para Abdi Dalem Keraton Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Dengan 'gaji' yang terbilang sangat tidak berarti saking rendahnya, mereka tetap merasa terpanggil dan bangga menjalani profesinya sebagai pegawai keraton, mengabdi bagi Sang Sultan yang sangat dihormatinya. Mereka meyakini turut mengambil bagian yang mulia dan sangat berarti dalam tatanan hidup di lingkungannya. Disini uang bukanlah ukuran. Contoh lain adalah para pahlawan, para atlit amatir atau para relawan kemanusiaan. Dan juga mungkin pelaku bom bunuh diri.

Adapun visi yang bermanfaat adalah yang hasil akhirnya mampu memberikan kegunaan besar bagi para anggota yang bergabung didalamnya. Meskipun tidak selalu harus berarti materi, manfaat yang mampu memberikan dampak besar, terukur, dan secara langsung bisa dinikmati serta tampak kasat mata biasanya memang yang berkaitan dengan hal-hal fisik: uang, jabatan, rumah besar, kemashuran, kekuasaan dan sejenisnya. Manfaat material ini banyak digunakan untuk membangun komitmen sebuah tim. Namun perlu diingat bahwa visi yang bermanfaat saja tanpa dimuati dengan makna yang dalam biasanya akan berakhir di tengah jalan karena sifat manuasia yang oportunis. Bukankah Tuhan pun memanfaatkan sikap oportunis kita dengan menjanjikan hal-hal hebat jika kita mau melaksanakan kehendaknya? Sebut saja pahala yang akan kita terima di bulan Ramadhan yang senilai dengan seribu bulan yang lain, atau kesembuhan fisik yang ajaib bila kita pergi dan berdoa di Lourdes.

Oleh karena itu, visi yang bermanfaat haruslah berdiri diatas pondasi tiga nilai dasar diatas agar terwujud tuntas. Tanpa pondasi integritas, mental berkelimpahruahan dan tingkat maturitas yang tinggi, perjalanan tim mewujudkan hasil akhir yang besar akan ditelikung dan dikhianati oleh para oportunis. Dalam situasi ini, betapapun kerasnya para pemimpin mendengking ‘jangan mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok’, akan menjadi sia-sia bahkan terlihat absurd.

Sadar akan tujuan juga berarti memahami secara pasti hasil akhir yang ingin diperoleh. Tim yang hebat biasanya memeriksa dan memastikan dengan tegas hasil akhir itu sebelum bertindak. Pemahaman atas hasil akhir sering tidak mudah justru karena kita menganggap mudah dimengerti. Kita sering terkecoh dengan pola berpikir kita sendiri sehingga tujuan sesungguhnya tidak kita pahami dengan benar. Persepsi yang membelenggu kita sering pula menyeret kita pada cara penyelesaian dan cara kerja berdasarkan ‘rumus umum’ yang tampaknya benar.

Sadar akan tujuan akan membuat orang memiliki pegangan arah dan tidak mudah kehilangan orientasi apabila berhadapan dengan persoalan-persoalan yang dilematis. Apalagi dengan tujuan yang sarat makna, orang tidak akan mudah putus asa dan akan berusaha keras mencari jalan lain untuk menuju kesana. Ibarat sedang menuju Monas untuk menghadiri pernikahan anda, bila anda terjebak macet tentu anda akan berusaha keras mencari jalan alternatif lain meski jalan tikus sekalipun. Anda tentu tidak mudah menyerah dan pulang begitu saja karena mempelai anda menunggu disana.

Delapan Pilar Penyangga

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #013
Bangunan Yang Kokoh Ditopang Oleh Pilar Yang Kuat namun Lentur - HIG

Mari kita terus mengintip para manager yang sedang melakukan outbound itu.
Hari pertama pelatihan Outbound High Performing Team itu dimulai dengan bunyi kentongan pada pukul 05.55 WIB yang menghentak para manajer untuk segera bangun dan bergegas menuju lapangan rumput tempat kegiatan pertama yakni senam pagi diadakan. Dipimpin oleh para instruktur yang tampak ramah-ramah namun tegas dan berwibawa, mereka melakukan stretching dan serangkaian olah tubuh agar badan menjadi lentur, siap melakukan aktivitas-aktivitas utama.
Belum sempat menyeka keringat, mereka diminta segera berkumpul dalam kelompok masing-masing untuk bersiap melakukan tugas lapangan yang pertama. Tugas ini dirancang secara khusus untuk menghilangkan kecanggungan antar individu di dalam kelompoknya, mencairkan suasana serta menciptakan ikatan-ikatan hati di dalam kelompok. Terdengar suara riuh rendah, gelak tawa kala terjadi adegan-adegan aneh dan kocak. Tak kalah gemuruhnya teriakan-teriakan memberi semangat dan dorongan untuk mampu lebih cepat, lebih baik dan lebih kompak dari kelompok lain. Aroma kompetisi antar kelompok mulai merebak.
Setelah itu tibalah saat untuk mandi dan sarapan pagi. Suasana persaingan meramaikan acara makan pagi itu karena Tim Biru yang mengungguli Tim Merah dan Kuning pada penugasan yang pertama tadi mulai membanggakan diri.
“Tim Merah dan Kuning payah! Kita dong, Tim Biru, kompak kali..!!, celetuk seorang anggota Tim Biru.
“Kita kasih dulu, biar senang”, jawab seorang anggota Tim Kuning.
“Wah..belum tahu dia kalau Tim Biru itu The Great Performing Team..!! Iya kan teman-teman..??, jawab anggota Tim biru lainnya.
“Biru, biru, biru YESSS!!!”, membahana koor dari tim biru antusias.
Benarkah Tim Biru sudah menjadi Tim yang berkinerja tinggi bahkan hebat? Secepat itukah terbentuk suatu tim yang solid dan berkinerja tinggi? Tentu saja harus dibuktikan lebih lanjut apakah mereka mampu berprestasi secara konsisten. Belum tentu pada penugasan berikutnya mereka mampu menghasilkan kinerja yang baik secara konsisten karena terdapat beberapa faktor yang menentukan keberhasilan kerja sebuah tim secara sinergis.
Sebuah Tim dikatakan berkinerja hebat, yang secara konsisten menghasilkan kinerja yang sinergis, haruslah ditunjang oleh berbagai keterampilan (skills) yang menjadi karakteristik dari Tim Berkinerja Hebat. Dalam konsep SOBAT keterampilan yan menjadi syarat Tim Hebat itu dilukiskan sebagai 8 pilar yang menyangga atap 'Kinerja', dan pilar-pilar itu bertumpu pada pondasi 3 nilai (values) : Integritas, Mental Berlimpah-ruah serta Matritas. Lihat artikel sebelumnya Pondasi Dari Batu Karang.
Tumpuan pada pondasi nilai itu mengisyaratkan bahwa keterampilan (8 pilar) dalam ber-Tim Hebat hanya bisa dikembangkan dan berakar kuat apabila para anggota Tim telah memiliki nilai-nilai itu, meresapinya dan menjadikannya sebagai pegangan dalam bersikap dan berperilaku. Tanpa memiliki nilai-nilai itu, keterampilan ber-Tim Hebat hanya akan menjadi hafalan yang cepat usang digerus waktu., persis seperti hafalan anak sekolah sekarang yang hanya bertahan 1 minggu setelah ulangan selesai. Seelahnya sudah tak bersisa di memory mereka!


Catatan:
SoP = Sense of Purpose/Sadar Tujuan OC = Open Communication/Komunikasi Terbuka
T & R = Trust & Respect/Rasa Hormat & Percaya SL = Shared Leadership/Memimpin Bersama BoD = Building on Differences/Berdiri Diatas Kebhinekaan EWP = Effective Working Procedures/Presedur Kerja Efektif F & A = Flexibility & Adaptability/Fleksibel & Adaptabel CL = Continuous Learning/Pembelajaran Berkelanjutan

Dan lebih berbahaya lagi bila keterampilan itu disalah-gunakan untuk tujuan yang bertentangan dengan nilai-nilai itu. Ingat, semua keterampilan pada dasarnya sama, yakni hanyalah alat yang netral. Dia bisa digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. Oleh karena itu SOBAT menekankan 8 pilar itu hendaknya bertumpu pada ketiga nilai SOBAT tadi.

Maturitas

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #012
Landasan nilai ketiga (ini juga bukan berarti tidak lebih penting dari yang pertama atau kedua) yang sangat diperlukan untuk membangun Tim berkinerja luar biasa adalah sikap saling membutuhkan justru pada saat seseorang makin memiliki kompetensi yang tinggi. Ini persis seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.
SIlakan merenungi hukum alam yang hebat ini!
Maturitas atau kedewasaan seseorang ditunjukkan dari kesadaran dan sikapnya bahwa hidup adalah saling bergantung satu dengan yang lain, saling membutuhkan dan saling melengkapi (sense of interdependency). Makin tinggi tingkat kedewasaan seseorang semakin tinggi pula dia menyadari bahwa hidup tidak dapat dijalani tanpa kehadiran dan bantuan orang lain disekitarnya.
Hukum alam mengajarkan kepada kita bahwa rasa saling bergantung merupakan tingkat kedewasaan yang paling tinggi. Perhatikan perjalanan hidup kita semenjak dilahirkan ke dunia hingga mencapai usia tua. Sesosok bayi tentu sangat bergantung hidupnya (dependent) kepada orang-orang disekitarnya. Dia bahkan tidak dapat hidup tanpa uluran tangan orang lain. Anda tentu tidak akan membiarkan bayi itu berada di tepi lubang sumur tanpa penjagaan, karena dia belum layak dipercaya. Dan bila dia berbuat salah, ngompol atau buang air sembarangan, andapun sudah tentu tidak akan memarahinya karena anda memakluminya sepenuh hati bahwa ia belum dapat dimintai pertanggung-jawaban. Jadi, bila seseorang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, ia tergolong dalam kaum bayi, manusia dengan tingkat kedewasaan paling rendah.
Beranjak besar, selepas remaja, seseorang akan meningkat kemampuannya, merasa dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, mengatur hidupnya sendiri dan bila mungkin tidak berada dibawah kendali orang lain. Dia merasa mandiri. Dan bila dia memang mampu hidup mandiri, dia menjadi layak dipercaya dan patut bertanggung-jawab atas segala tindakannya.
Bertambahnya pengalaman hidup – terutama akibat benturan dan kegagalan - akan membawa seseorang pada kesadaran dan pemahaman bahwa kemandirian yang dimilikinya tidak sepenuhnya dapat menyelesaikan secara sendiri segala persoalan hidup. Pengalaman akan mengajarkan kepadanya bahwa dengan bekerjasama ia akan memperoleh hasil yang lebih besar, lebih cepat dan lebih efisien. Pemahaman ini pada akhirnya akan membawa dia kepada rasa membutuhkan orang lain dan dibutuhkan oleh orang lain. Dia menjadi terbuka untuk bekerja sama, menjadi lebih santun dan mau menghargai orang lain.
Jadi, ukuran tingkat kedewasaan seseorang, bukanlah dilihat dari banyaknya umur yang dimiliki atau keriput dan uban yang menghiasai kepala, melainkan seberapa dalam kesadaran saling bergantung dengan sesama serta dengan lingkungan. Semakin dini seseorang menyadari dan memiliki sikap itu, semakin cepat dewasalah ia, meskipun dari segi umur mungkin terbilang masih belia. Sebaliknya betapapun tuanya seseorang, bila sikap dan perilakunya tidak membuat orang lain mau bekerjasama dengannya, ia belum dapat dikatakan dewasa. Pepatah lawas mengatakan “Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan
Terkait dengan itu, kedewasaan seseorang terikat erat dengan kemampuannya membedakan antara yang benar dan salah dan kemudian melaksanakan yang dinilai benar itu. Hanya dengan mampu mengetahui yang benar namun tidak melaksanannya, belum berarti memiliki tingkat kedewasaan yang tinggi. Dan yang tidak kalah sulitnya adalah memilih yang benar diantara populasi yang salah atau sebaliknya mengetahui yang salah diantara populasi keyakinan kebanyakan orang yang mengatakannya benar. Anda tidak larut dan terbawa arus begitu saja, melainkan setia kepada kebenaran yang hakiki.
Kedewasaan juga berarti mampu menyeimbangkan antara keberanian ( courages), percaya diri karena merasa mandiri, dengan pertimbangan (considerations) terhadap kepentingan berbagai pihak.

1989, Perestroika, Democracy,Glasnost, Reforms! Source: 25 Red Snap Shot

Tentunya anda tidak perlu heran melihat kondisi masyarakat kita sekarang berdasarkan hukum alam diatas. Mereka menikmati kebebasan setelah puluhan tahun berada dalam kondisi (tepatnya dibuat agar) dependen, bergantung pada pusat (Jakarta). Sayangnya eforia ini cenderung kebablasan karena tidak segera dibimbing ke tingkat kedewasaan yang lebih tinggi yakni kesadaran saling bergantung. Ketidakdewasaan ini terlihat jelas dari banyaknya orang yang mengartikan demokrasi sebagai kebebasan tanpa peduli terhadap kepentingan orang lain, mengingkari keanekaragaman dengan mengedepankan kuantitas (quantity democracy). Kita juga mestinya tidak perlu kaget terhadap hasil referendum Timor Timur yang memilih merdeka setelah sebelumnya sangat bergantung pada Jakarta. Sama seperti Uni Soviet tahun 1980-an, setelah ‘Glasnost’ dan ‘Perestroika dikumandangkan oleh Mikhail Sergeyevich Gorbachev maka bermunculanlah negara-negara baru eks negara bagian yang sebelumnya sangat bergantung kepada Kremlin.3rd European Union Cultural Week in India (Logo 2007)

Dilain pihak, negara-negara Eropa Barat yang telah puluhan tahun merdeka justru mengikatkan diri dengan membentuk Uni Eropa karena sadar saling bergantung, agar dapat tetap dan unggul bersaing di era globalisasi. Jadi, hukum alam akan terus berjalan. Yang perlu dirisaukan hanyalah bila kita tidak segera mampu menciptakan rasa saling bergantung itu. Kita gagal membuat diri kita dewasa.

Pic.source: imcradiodotnet


Mentalitas Berkelimpah-ruahan

Seri SOBAT - Semua Orang Bisa Hebat - Artikel #011


Pondasi nilai yang kedua (bukan berarti yang pertama lebih penting) dalam bangunan rumah SOBAT untuk membangun Tim Berkinerja Tinggi adalah sikap mental yang jarang bisa kita temui lagi di Indonesia, apalagi kalau anda menengok di jalan raya ibukota dan kota-kota besar lainnya. Tampaknya yang ada adalah sikap menta lyang berlawanan dengan mentalitas yang dibutuhkan untuk maju bersama.
Mari kita tengok mentalitas ini.
Mentalitas Berkelimpah-ruahan atau Abundance Mentality adalah sikap mental yang memandang bahwa dunia akan memberikan kecukupan dan tidak khawatir kehabisan apabila kita mau berkerjasama dan kreatif menciptakan sinergi. Orang yang memiliki mentalitas ini biasanya berlapang hati untuk berbagi dan bekerjasama serta tidak mudah menyerah untuk berusaha bersama.
Abundance Mentality dapat pula diartikan sebagai sikap ‘Legowo’, luas hati, gemar berbagi (sharing), dan suka melayani demi membahagiakan orang lain karena hal itu akan membuat dirinya juga bahagia. Mereka senantiasa berpikir “dan” bukan “atau” bahkan untuk pilihan-pilihan yang bersifat paradoksal sekalipun, karena mereka berani bersusah payah mencari solusi gabungan dari hal-hal yang berlawanan itu. Memilih atau berarti membuang yang lain, meniadakan kemungkinan mencari solusi ketiga yang bersifat sinergis. Memilih dan berarti harus berupaya memadukannya menjadi sesuatu yang baru, secara kimia menjadi zat baru yang berbeda dari unsur-unsur pembentuknya.
Sebaliknya adalah “scarcity mentality atau mentalitas berkelangkaan yang dalam bahasa dan budaya Jawa digambarkan sebagai mental kere, yakni sikap mental yang memandang dunia ini langka, penuh kekurangan dan tidak pernah cukup, sehingga agar kebagian saya harus lebih dahulu merebutnya. Saya harus mendahului yang lain biarpun harus melanggar aturan yang ada. Persetan dengan akibat yang ditimbulkannya sekalipun akan membawa kekacauan atau kerugian pada orang lain.
Sebenarnya bukan dunia ini yang langka, tetapi pikiran dan hati manusia itu yang langka daya pikir dan kreativitasnya. Bukankah untuk memperoleh pendapatan yang tinggi kita tidak perlu menebang jutaan hektar hutan untuk hanya menjual gelondongan kayu yang nilainya cuma 10-20% dari produk jadinya. Bukankah produk jadi itu dapat didaur ulang untuk mengurangi konsumsi kayu gelondongan atau bahkan saat telah menjadi sampahpun dapat diolah menjadi pupuk yang mempercepat tumbuhnya pohon-pohon baru. Atau, daripada mengambil kayu gelondongan, bukankah lebih untung menemukan dan memanfaatkan beribu jenis zat-zat berharga bagi pengobatan, kosmetika dan lain-lain dari tetumbuhan ikutan yang terdapat berlimpah didalam hutan dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada kayu gelondongan itu.
Mental kere, adalah mentalitas anak berumur 2 tahun. Karakter mereka dapat disimpulkan dengan dua kata : “Saya dulu!”. Semua berpusat pada ‘saya’. Sifat alamiah manusia ini memang lucu dan menggemaskan untuk si balita, tetapi sangat tidak lucu, norak serta menjengkelkan jika masih dimiliki oleh orang ‘dewasa’ yang selalu datang dengan “kebutuhanku, ideku, mau saya, keinginanku, pokoknya aku, saya, gue, beta, awak”.
Agar lebih memudahkan pemahaman, tabel dibawah ini menyajikan perbedaan sikap dan perilaku antara Mental Berkelimpah-ruahan dengan Mental Kere.
Dapat diperiksa bahwa perbedaan keduanya bersifat bertolak belakang atau berlawanan. Jelas juga terlihat bahwa Mental Berkelangkaan selalu berkonotasi negatif sedangkan sebaliknya, mentalitas Berkelimpah-ruahan berhubungan dengan hal-hal yang positif.

NEXT TOPICS

  • Berpikir 'DAN' bukan 'ATAU'
  • Berpikir Induktif
  • Berpikir Ekstrapolatif
  • Mental KERE
  • Kompromi Bukanlah Win-Win
  • Gagal itu juga Sukses!
  • Tujuan Nan Takkan Pernah Gagal
  • QUIZ Sobat
  • Konsep WEIJI
  • Jangan Menghormati PERBEDAAN!

Very Inspiring Video

Recent Comments